Sabtu, 30 Mei 2015

Terminal Pringsewu Kumuh dan Disesaki Sampah

Senin, 27 Juni 2011 10:09

"Kalau harus masuk ke terminal dulu, sama saja memutar, terlalu jauh. Penumpangnya juga tidak ada di sana," kata Roji (25), Kamis (23/6).

Berbeda dengan Terminal Betan Subing yang lengang, Terminal Pringsewu sebenarnya lebih ramai.  Beberapa angkutan pedesaan (angdes) dan truk tampak parkir di pelataran terminal. Angkutan umum melakukan bongkar muat barang dan penumpang pasar, mulai pagi hingga sore. Pada Kamis siang itu, selama satu jam, tak kurang dari 20 kendaraan umum melintasi jalan di depan terminal.

Beberapa petugas dishub juga aktif menarik retribusi terhadap kendaraan umum yang lewat. Meski demikian, tidak semua bus dan truk yang melintas bersedia masuk ke dalam terminal. Jika tidak ada penumpang yang meminta turun di terminal, maka bus yang umumnya menuju Kota Agung dan Wonosobo di kabupaten Tanggamus tersebut, langsung melanjutkan perjalanan tanpa masuk terminal.

Walaupun aktivitas terminal tampak hidup, tapi lokasi terminal yang terpadu dengan pasar menyebabkan Terminal Pringsewu tampak kumuh dan disesaki sampah. Plastik, kertas, sisa sayur dan buah berserakan di mana-mana.

Kondisi itu pula yang menyebabkan penumpang enggan memanfaatkan terminal. Fasilitas seperti WC, kamar mandi, ruang tunggu, atau penunjuk tarif dan jurusan pun tak ada. Secara fisik, bangunan terminal dan pasar juga tidak terbedakan dengan jelas. Satu-satunya pembeda hanyalah papan nama yang bertuliskan "Terminal Pringsewu" di depan sebuah pos milik dishub.

Selebihnya, tidak ada bangunan penunjang bagi penumpang atau pengelola agen bus. Terminal lebih mirip pasar. Pasar yang bertuliskan terminal. Jalan dan pelatarannya terbuat dari batu tanpa aspal.

Meski demikian, beberapa agen bus jurusan Lampung-Jawa membuka kios di lokasi terminal, berdampingan dengan toko-toko pasar. Mereka menjual tiket seperti PO Puspajaya, Handoyo, atau Muncul.

Halaman12
Editor: taryono
KOMENTAR
TRIBUNnews.com © 2015 About Us Help
Atas