• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Sabtu, 1 November 2014
Tribun Lampung

Terminal Pringsewu Kumuh dan Disesaki Sampah

Senin, 27 Juni 2011 10:09 WIB
BANDAR LAMPUNG, TRIBUN--Keengganan sopir angkutan umum untuk masuk ke terminal juga terjadi di Pringsewu. Sejumlah sopir bus jurusan Pringsewu-Gisting mengaku, tidak pernah masuk ke terminal Pringsewu. Mereka lebih suka menunggu penumpang di sekitar Pasar Induk Pringsewu.

"Kalau harus masuk ke terminal dulu, sama saja memutar, terlalu jauh. Penumpangnya juga tidak ada di sana," kata Roji (25), Kamis (23/6).

Berbeda dengan Terminal Betan Subing yang lengang, Terminal Pringsewu sebenarnya lebih ramai.  Beberapa angkutan pedesaan (angdes) dan truk tampak parkir di pelataran terminal. Angkutan umum melakukan bongkar muat barang dan penumpang pasar, mulai pagi hingga sore. Pada Kamis siang itu, selama satu jam, tak kurang dari 20 kendaraan umum melintasi jalan di depan terminal.

Beberapa petugas dishub juga aktif menarik retribusi terhadap kendaraan umum yang lewat. Meski demikian, tidak semua bus dan truk yang melintas bersedia masuk ke dalam terminal. Jika tidak ada penumpang yang meminta turun di terminal, maka bus yang umumnya menuju Kota Agung dan Wonosobo di kabupaten Tanggamus tersebut, langsung melanjutkan perjalanan tanpa masuk terminal.

Walaupun aktivitas terminal tampak hidup, tapi lokasi terminal yang terpadu dengan pasar menyebabkan Terminal Pringsewu tampak kumuh dan disesaki sampah. Plastik, kertas, sisa sayur dan buah berserakan di mana-mana.

Kondisi itu pula yang menyebabkan penumpang enggan memanfaatkan terminal. Fasilitas seperti WC, kamar mandi, ruang tunggu, atau penunjuk tarif dan jurusan pun tak ada. Secara fisik, bangunan terminal dan pasar juga tidak terbedakan dengan jelas. Satu-satunya pembeda hanyalah papan nama yang bertuliskan "Terminal Pringsewu" di depan sebuah pos milik dishub.

Selebihnya, tidak ada bangunan penunjang bagi penumpang atau pengelola agen bus. Terminal lebih mirip pasar. Pasar yang bertuliskan terminal. Jalan dan pelatarannya terbuat dari batu tanpa aspal.

Meski demikian, beberapa agen bus jurusan Lampung-Jawa membuka kios di lokasi terminal, berdampingan dengan toko-toko pasar. Mereka menjual tiket seperti PO Puspajaya, Handoyo, atau Muncul.

Kondisi agak lumayan yang, terlihat di Metro. Terminal induk yang terletak di bedeng 16 C Mulyojati memiliki fasilitas lebih lengkap, seperti penunjuk jurusan, WC, dan ruang tunggu penumpang.

Namun, sejumlah penumpang masih mengeluhkan kondisi WC yang kurang terawat dan tidak terjaga kebersihannya. Penumpang juga banyak memilih turun di luar terminal karena minimnya akses angkutan kota pada malam hari dari terminal. Jika terpaksa tiba di metro pada malam hari, penumpang merasa lebih nyaman dan aman naik ojek di Ganjar Agung, atau memnita dijemput kerabatnya.

"Sebenarnya relatif lebih aman karena ada mapolsek di area terminal. Tapi angkutan kadang susah, terutama malam hari. Lebih terjangkau kalau turun di Ganjar Agung (perempatan sebelum Mulyojati)," kata Yanti (28), warga Yosomulyo, Metro Pusat.

Meski secara umum kondisinya cukup baik,  sejumlah fasilitas masih kurang memadai. Misalnya, aspal pelataran terminal berlubang dan belum diperbaiki. Selain itu, terminal yang dikenal sebagai terminal 16C ini juga belum menerapkan sistem peron secara maksimal. Para penumpang yang turun di area terminal antarkota dan hendak masuk ke terminal dalam kota, tidak ditarik peron. (tim)

Editor: taryono
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas