• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Minggu, 26 Oktober 2014
Tribun Lampung

Dialog Lucu dengan Burung Beo

Selasa, 28 Juni 2011 08:38 WIB
Dialog Lucu dengan Burung Beo
kompas gramedia
Buku Pak Harto The Untold Stories
DI bagian belakang rumah Soeharto, di Jalan Cendana, Jakarta, ada seekor burung beo yang pandai menirukan suara manusia. Sang beo mampu melafalkan sila-sila dalam Pancasila, mengucapkan assalamualaikum, termasuk menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya. Setiap kali Soeharto melintas di dekatnya, burung beo itu langsung berkicau nyaring, "Bapak Soeharto, Presiden Republik Indonesia."

Suatu hari, setelah lengser dari jabatan sebagai presiden, Soeharto mendekati sangkar burung beo. Seperti biasa, binatang tersebut spontan berkicau, "Bapak Soeharto, Presiden Republik Indonesia."

Spontan Soeharto menjawab kicauan beonya. "Habibie," cetusnya merujuk nama BJ Habibie yang menggantikannya sebagai presiden.

Rupanya burung beo kembali berkicau, "Bapak Soeharto, Presiden Republik Indonesia."Habibie," timpal Soeharto. Namunm lagi-lagi  beo menyahut, "Bapak Soeharto, Presiden Republik Indonesia." Soeharto kemudian meninggalkan burung itu sambil bergumam, "Hmmmm...dasar beo!"

Itulah kisah lucu yang disaksikan Mayor Jenderal TNI Issantoso, saat bertugas sebagai ajudan Soeharto pada 1995-1998. Alumnus Akabri 1974 tersebut menjadi saksi hari-hari terakhir Soeharto sebagai presiden setelah menjabat selama 32 tahun.

Menjelang pergantian tugasnya sebagai ajudan, Issantoso dipanggil Soeharto. "Beliau menanyakan kesehatan dan kabar keluarga saya. Kemudian Pak Harto menyampaikan ucapan terima kasih kepada saya," kata Issantoso dalam buku Pak Harto The Untold Stories, terbitan Gramedia Pustaka Utama.Tak ada cindera mata yang diberikan Soeharto kepada pria kelahiran Tegal, 22 Mei 1952 tersebut.

Namun, Issantoso mengaku memperoleh 'hadiah' sangat berharga, yang berusaha dijaganya sebaik-baiknya. Apa itu? Rupanya sebuah nasihat.

"Jika kamu ingin berumur panjang, melayatlah orang mati dan doakan dia. Jika ingin sehat selalu, jenguk dan bantulah mereka yang sakit. Jika ingin banyak mendapat rezeki, datangilah orang hajatan. Jika ingin kaya, belajarlah pada orang Cina. Jika ingin mendapat akhirat, dekatlah dengan para kiai dan ulama," demikian nasehat mantan Pangkostrad itu.

Issantoso mengungkapkan, masa menjelang Soeharto mengundurkan diri sebagai presiden merupakan masa penuh kenangan, terutama 20 Mei 1998 malam. "Saat itu saya bertugas sebagai ajudan jaga di Cendana," kenang Issantoso.

Malam terakhir berkuasa itu, Soeharto sudah masuk kamar. Tak berapa lama, datang utusan membawa dokumen. "Begitu saya tahu dokumen itu begitu penting untuk disampaikan, saya mengetuk pintu kamar Pak Harto," ujarnya. Dokumen tersebut berisi pernyataan sejumlah menteri yang tidak bersedia bergabung lagi dalam kabinet yang tengah disiapkan Soeharto.
Seperti biasa, tengah malam seperti itu, Soeharto memang masih terajga untuk berzikir dan salat malam.  Dokumen pun langsung diterima.

"Meskipun Pak Harto tidak menjadi presiden lagi, saya tetap menjalankan tugas sebagai ajudannya. Saya melihat Pak Harto tidak begitu tampak bersedih, apalagi terpukul. Sebaliknya, cenderung lebih ringan dan tenang menjalani hari-harinya di Cendana," katanya.

Tegur Bob Hasan
Saat menjadi ajudan, Issantoso punya pengalaman menarik terkait pengusaha Bob Hasan, salah satu orang dekat Soeharto. Suatu ketika, Issantoso dengan berani menegur mantan Menteri Perindustrian dan Perdagangan itu, karena Bob mengenakan kaus tidak rapi saat bermain golf dengan Soeharto.

"Agak terperangah pada teguran saya, Bob bertanya kepada Pak Harto siapa sebenarnya ajudan yang satu ini," kata Issantoso.
"Lha dia kan anaknya Iskandar, ya pantas berani," sahut Soeharto.

Issantoso memang putra Mayor Jenderal Purn Iskandar, mantan anak buah Soeharto di masa revolusi. "Bob Hasan yang anak angkat Jenderal TNI Gatot Soebroto tahu betul tokoh-tokoh pejuang yang terlibat dalam berbagai pertempuran di masa revolusi kemerdekaan di Jawa Tengah, termasuk ayah saya," katanya.(*)









 

     
Editor: taryono
Sumber: Tribunnews
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
0 KOMENTAR
2292 articles 7 0
Loading...
Sebelum memberikan komentar, silahkan login menggunakan
TERBARU
TERBARU
TERLAMA
TERKOMENTARI
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas