Alhajar Syahyan setelah Vonis Bebas

Anak-Anak Kerap Menerima Ejekan dari Teman

Menyandang status sebagai terdakwa korupsi hal yang sangat menyakitkan bagi Alhajar Syahyan.

Menyandang status sebagai terdakwa korupsi hal yang sangat menyakitkan bagi Alhajar Syahyan. Tidak hanya dirinya yang harus menanggung derita. Tapi juga keluarga, terutama anak-anaknya, yang kerap menerima ejekan dari teman-temannya.

Sejak kasus dugaan korupsi uang makan minum tamu pimpinan DPRD Tanggamus periode 2006-2009 mencuat, nama Alhajar dan sejumlah koleganya di dewan, wara-wiri di media massa. Setelah ditetapkan sebagai tersangka lalu terdakwa, pemberitaan terhadap politisi senior ini kian gencar bersama gegap gempita kasus itu sendiri. Tak pelak, banyak orang mengetahui dan membicarakan kasus tersebut. Tak terkecuali teman-teman sekolah anak-anaknya.

"Mereka (anak-anak Alhajar) sering diejek sebagai anak koruptor oleh teman-temannya," tutur Alhajar kepada Tribun  Lampung di kediamannya, Jl Letjen Ryacudu No 33, Sukarame, Bandar Lampung, Sabtu (23/7).  

Menurut Alhajar, yang paling sering menerima ejekan adalah anak pertama dan kedua, dari empat buah hatinya. Kedua anak perempuan ketua DPRD Tanggamus dua periode ini sedang memasuki usia remaja. Yang sulung berusia 14 tahun dan tahun ini masuk SMA. Sedangkan putri keduanya, berusia 11 tahun, kini masuk SMP.

"Yang nomor tiga masih SD. Kalau si bungsu belum sekolah," terangnya.  

Kedua putrinya itu pun menjadi malu karena ejekan-ejekan terhadap sang ayah. Beruntung, semua itu tak lantas membuat keduanya mogok masuk sekolah. "Sekarang ini lebih berat menanggung status sebagai anak terdakwa korupsi daripada sebagai anak PKI (Partai Komunis Indonesia)," ujarnya lirih.

Tidak hanya kedua anaknya yang merasakan perlakuan tak mengenakkan. Menurut Alhajar, istrinya pun kerap diperlakukan serupa di lingkungan kerjanya. Teman-teman sang istri, terkadang melontarkan sindiran-sindiran tentang kasus yang sedang ia hadapi. "Beruntung istri saya tegar. Ia mampu melewati itu semua dengan kesabaran," terang Alhajar.

Ketegaran tergambar dari ucapan dan perilaku sang istri terhadapnya semasa dirinya masih mendekam di dalam penjara. Tiap tengah malam, sang istri meneleponnya untuk mengingatkan menunaikan ibadah salat malam. "Setipa menjenguk, istri saya juga selalu membawakan ikan sambal, makanan kesukaan saya," katanya seraya tersenyum.

Tut Wuri Handayani, itulah nama istri Alhajar. Nama indah yang mengingatkan pada slogan pendidikan yang diperkenalkan pahlawan pendidikan Ki Hajar Dewantoro. Wuri, begitu ia biasa disapa, mengaku tak pernah alpa memanjatkan doa bagi keselamatan Alhajar, selama sang suami berada di dalam bui.  "Saya pasrah. Semua saya serahkan pada Tuhan," ucapnya yang mendampingi Alhajar selama jalannya wawancara.

Satu masa yang membuat Wuri begitu khawatir adalah jelang pembacaan vonis oleh hakim. Dari awal tiba di ruang persidangan, jantung Wuri berdegup kencang. Dirinya dilanda kecemasan akan keputusan hakim yang  akan menentukan nasib suaminya.

Ketegangan baru sirna setelah vonis bebas kepada suaminya dibacakan majelis hakim pekan lalu. Rasa khawatir sontak berubah menjadi kelegaan dan kebahagiaan luar biasa. "Vonis bebas itu merupakan jawaban atas doa saya selama ini," katanya.

Menurut Wuri, sejak Alhajar masuk ke lembaga pemasyarakatan, keceriaan keempat anaknya hilang. Biasanya, setiap Alhajar pulang, anak-anak berlari menyambut sang ayah. "Namun sejak Bapak (Alhajar) di dalam sel, tidak ada lagi hal seperti itu," ungkapnya.

Kini setelah menghirup udara bebas, Alhajar mulai kembali mengisi waktu dengan hobi lamanya: menulis. Sekretaris DPC PDI Perjuangan Tanggamus ini ingin banyak menulis tentang persoalan hukum. "Saya juga rajin mengikuti perkembangan berita melalui internet," ujarnya.(wakos reza gautama)

Editor: taryono
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved