Jumat, 19 Desember 2014
Tribun Lampung

Seusai Dipecat Eks Karyawan Nestle Berencana Jual Sayur

Senin, 28 November 2011 21:52 WIB

Seusai Dipecat Eks Karyawan Nestle Berencana Jual Sayur

Setiap perjuangan pasti mengandung risiko. Dan pejuang siap mengambil risiko tersebut. Hal itu lah yang dilakukan oleh Trisnanto. Eks buruh Nestle ini menyadari tentang risikonya dalam memerjuangkan upah di tempatnya bekerja: Hilang pekerjaan.

Trisnanto adalah salah satu dari 53 karyawan Nestle yang harus kehilangan pekerjaan karena melakukan aksi mogok menuntut penentuan skala upah. Trisnanto tidak menyesal walaupun harus kehilangan mata pencaharian. Baginya perjuangan yang dilakukan adalah sebuah kebenaran.

"Kami menuntut penentuan skala upah berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Apa yang kami lakukan adalah benar," ujar dia kepada Tribun saat diwawancara di kediamannya di Jalan Imam Bonjol Gang Terong, Senin (28/11).

Trisnanto merasa apa yang perusahaan perlakukan terhadap dirinya tidaklah sebanding dengan pengabdian yang telah ia jalankan. Trisanto bekerja di Nestle sejak tahun 1984. Terhitung sudah hampir 28 tahun ia bekerja di Nestle Panjang.

Selama 28 tahun pengabdiannya, ayah dari empat anak ini hanya mendapatkan gaji sebesar Rp 4 juta. "Itu gaji terakhir saya di Nestle. Masa kerja saya sudah hampir 28 tahun. Jadi kalau ada anggapan bekerja di sana itu sejahtera tidak benar," ucap dia.

Selama bekerja di Nestle, Trisnanto mengaku hanya cukup untuk membeli sebuah rumah sederhana yang kini ditempatinya. Minimnya upah, membuat kakek dari dua cucu ini tidak mempunyai tabungan yang banyak.

Pascapemberhentian dirinya, Trisnanto mesti bertahan hidup menghidupi keluarganya. Tabungan yang tersisa, menurutnya, hanya cukup sampai akhir bulan November. Ke depannya, Trisnanto sudah membuat rencana bersama istri.

"Kami berencana menjual sayur matang untuk menghidupi keluarga," ucap dia. Kemahiran istrinya dalam memasak pun diberdayakan. Sang istri yang membuat sayur matang, Trisnanto yang mengedarkan di perumahan-perumahan.

Usaha kecil-kecilan itu dirintis hanya untuk bertahan sambil menunggu perjuangannya bersama-sama dengan teman-teman dari Serikat Buruh Nestle Indonesia Panjang (SBNIP). "Saya yakin kami akan diterima bekerja kembali di Nestle," ungkapnya.(wakos)
Editor: soni

TRIBUNnews.com © 2014

About Us

Help

Atas