CITIZEN REPORTER

Diskusi Sejarah Bersama Anhar Gonggong

Saya beserta dua orang teman, Satria Rahmadani Putra

Diskusi Sejarah Bersama Anhar Gonggong
IST
Mubaraq Dinata
MUBAROQ DINATA
Pengurus Daerah KAMMI Lampung
Melaporkan dari Jakarta


Saya beserta dua orang teman, Satria Rahmadani Putra dan Rasnal H. Bisnu, mewakili daerah Lampung pada acara Short Course Gerakan Nasional 2 (SCGN 2). Acara ini diadakan oleh Pengurus Pusat (PP) Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) di Jakarta, dan menghadirkan 15 peserta pilihan dari seluruh Indonesia. 

Agenda yang berlangsung dari tanggal 26 Februari-4 Maret 2012 ini, terdiri dari agenda-agenda pelatihan serta silaturrahim ke tokoh-tokoh nasional. Salah satu agenda kami pada hari ini adalah silaturahim mengunjungi langsung Sejarawan Indonesia Anhar Gonggong. Kami berangkat bersama-sama  langsung ke rumah beliau, di bilangan Pondok Gede, Bekasi. Di rumahnya, beliau menerima kami dengan sangat ramah.

Prof. Anhar Gonggong mengawali diskusi bersama kami terkait kronik sejarah Indonesia. Mengutip pernyataan Soekarno, beliau menjelaskan bahwa Sriwijaya dan Majapahit sebenarnya merupakan bentuk kolonialisme kuno. Pada masa kerajaan tersebut, kita belumlah mengenal sebuah negara. 
Kerajaan-kerajaan yang besar di nusantara pada masa itu cenderung ingin menguasai kerajaan-kerajaan yang lebih kecil. Gagasan bentuk Negara Indonesia itu baru ada pada awal abad ke-20.

Tokoh Sejarawan yang sering mengeluarkan statemen kontroversial ini menjelaskan bahwa gagasan bentuk Negara Indonesia pada saat itu, baru terbenak oleh para pemuda Indonesia yang telah mendapatkan pendidikan pada masa penjajahan.  Namun tidak cukup hanya itu, mereka para pemuda Indonesia yang telah terdidik tersebut juga telah tercerahkan sehingga mau bergerak untuk memperjuangkan kemerdekaan bagi Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Para bapak bangsa kita pada masa tersebut, seperti Soekarno, Hatta, Sjahrir, dan lainnya  dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia memiliki standar karakter pemimpin dunia yang sudah teruji. Sifat-sifat mereka tersebut antara lain cerdas, tabah, serta jujur pada diri sendiri. Seperti misalnya Hatta yang pada masa itu mengenyam pendidikan langsung ke Belanda. Setelah selesai belajar, ia bisa saja hidup nyaman di bawah naungan pemerintahan kolonial. Tapi ia lebih memilih keluar-masuk penjara. 

Karena ia merupakan orang terdidik yang tercerahkan, dan juga cerdas dan tabah dalam menghadapi tekanan dari pemerintah kolonial. Di satu sisi, alasan mengapa pada masa kerajaan kita tidak pernah menang melawan penjajah karena bangsa kita hanya melawan dengan otot.  Namun setelah terjadinya sumpah pemuda, bangsa kita berangsur-angsur mampu mengusir penjajah. Hal tersebut karena para pemuda pergerakan pada masa itu memiliki ideologi yang jelas. Selain itu, para bapak bangsa kita tersebut mampu membangun organisasi untuk mencapai tujuan yang jelas, dan sanggup menguasai propaganda melalui media massa. Inilah yang harus kita tiru dari para bapak pendiri bangsa kita tersebut.(*)

Editor: Safruddin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved