• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Jumat, 31 Oktober 2014
Tribun Lampung

Kakao Lampung Terancam Tak Bisa Masuk Eropa

Rabu, 21 Maret 2012 09:50 WIB
Kakao Lampung  Terancam Tak Bisa Masuk Eropa
ist
kakao
TRIBUNLAMPUNG.CO.ID  - Uni Eropa berencana mengeluarkan peraturan baru terkait impor kakao dari Indonesia. Dalam aturan yang tengah digodok tersebut, beberapa negara Eropa mengusulkan kandungan kalium (unsur hara) kakao 0,05 miligram (mg) per kilogram (kg). Padahal provinsi penghasil kakao di tanah air, khususnya Lampung rata-rata kandungan kalium-nya 0,1 mg per kg.

Jika peraturan tersebut jadi ditetapkan, maka tak menutup kemungkinan ekspor kakao dari Lampung akan sulit masuk ke berbagai negara Eropa. Hambatan lain adalah, harga ekspor kakao Indonesia di pasaran dunia akan menurun. Sedangkan negara pengekspor produk komoditas sejenis yang mengikuti aturan baru itu akan lebih diterima untuk masuk pasar ekspor benua biru.

Hal tersebut disampaikan Ernawati, selaku Direktur Pengamanan Perdagangan Direktorat Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdangan dalam acara Diseminasi Penanganan Hambatan Perdagangan dalam Rangka Meningkatkan Pengamanan Akses Pasar Ekspor di Hotel Novotel, Selasa (20/3/2012).

"Eksportir dan petani kakao Indonesia masih sulit menerapkan kandungan kimia (kalium) tersebut. Untuk ekspor ke negara Asia saja tak masalah kaliumnya 0,1 miligram per kilogram, tapi kenapa ke Eropa mulai dipersulit," ucapnya.

Menurutnya, rencana penerapan kebijakan kalium itu tak lepas dari hambatan perdagangan trade remedies yang mencakup tuduhan dumping, subsidi, serta tindakan safeguard. Isu trade remedies justru  banyak dilakukan para negara maju dan berkembang yang tak lepas dari persaingan ekspor produk komoditas serta pengamanan produksi dalam negeri.

"Praktik perdagangan international yang ideal, harmonis, dan adil sebagaimana yang diamanatkan ketentuan WTO (World Trade Organization) dalam implementasinya masih belum menunjukkan hasil yang optimal. Hal ini terbukti masih banyaknya anggota WTO yang tetap melakukan proteksi terhadap industri dalam negeri secara samar dengan mengangkat isi hambatan teknis perdagangan," tukas Ernawati.

Dilanjutkannya, jika melihat data dari Dinas Koperasi, UMKM, Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Lampung, volume ekspor kakao asal Lampung pada Februari 2012 sebanyak 691,9 ton  senilai 1,643 juta dolar AS atau turun dibandingkan bulan sebelumnya. Dimana pada Januari lalu volume ekspor kakao sebesar 2.514 ton dengan nilai 6,074 juta dolar AS. (martin/tribunlampung cetak)
Editor: taryono
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas