Wan Mauli Sosok Feodal yang Demokratis
Tribun Lampung - Rabu, 28 Maret 2012 15:13 WIB

Berita Terkait
- Wan Mauli Dikukuhkan sebagai Ketua Lembaga Adat Megow…
- Polda Bantah Tetapkan Siti Farida Tersangka
- Polair Amankan 20 Kg Bahan Peledak Daya Ledak Tinggi
- Kediaman Terduga Teroris Masih Dipasang Garis Polisi
- Kronologis Penangkapan 4 Terduga Teroris
- Densus 88 Gerebek Rumah Solihin Way Kandis
- Terduga Teroris Pringsewu Disergap saat Maraton
- Densus 88 Gerebek Dua Rumah Kontrakan
- Densus 88 Tangkap Adin di Karang Anyar
- Empat Teroris Ditangkap di Tiga Lokasi di Lampung
TRIBUNLAMPUNG.co.id - Hampir satu bulan Wan Mauli Ketua Lembaga Adat Megou Pak Tulangbawang ditahan di Mapolda Lampung. Perubahan fisik dialami ayah empat anak yang ditahan atas tuduhan penjualan tanah register 45 Mesuji. Salah satunya berat badanya yang mengalami penurunan drastis.
"Alhamdulillah Mas kesehatannya baik. Tapi berat badan ayah turun drastis. Badannya juga kelihatan kurus," ungkap Novelia Novelia Yulistin (31) anak kedua Wan Mauli, saat diwawancarai Tribunlampung, Rabu (28/3/2012).
Wan Mauli lelaki kelahiran 3 Desember 1952, diakui anak-anaknya sebagai ayah yang memiliki sikap feodal namun demokratis. Bahkan pengakuan Novel, sang ayah merupakan pria yang tegas.
"Ayah kadang punya pemikiran feodal. Tapi dia sangat demokratis. Keinginan anak-anakanya tidak pernah dikekang khususunya pendidikan. Kalau yang prinsip dia tegas sekali," beber ibu dua anak ini.
Sejak ditahan di Polda Lampung, Senin (5/3) malam, Novel mengaku keluarganya kehilangan sosok Wan Mauli yang diketahui sangat menyukai kopi hitam dan tidak pernah lepas dari rokok. Bahkan dirinya kerap menitikkan air mata kalau teringat sang ayahnya yang ditahan.
"Sedihlah Mas, biasanya kami kumpul keluarga. Kadang nangis kalau ingat ayah. Apalagi cucunya sering tanya kakeknya," ujar alumnus Universitas Bandar Lampung ini. (romi-rinando)
"Alhamdulillah Mas kesehatannya baik. Tapi berat badan ayah turun drastis. Badannya juga kelihatan kurus," ungkap Novelia Novelia Yulistin (31) anak kedua Wan Mauli, saat diwawancarai Tribunlampung, Rabu (28/3/2012).
Wan Mauli lelaki kelahiran 3 Desember 1952, diakui anak-anaknya sebagai ayah yang memiliki sikap feodal namun demokratis. Bahkan pengakuan Novel, sang ayah merupakan pria yang tegas.
"Ayah kadang punya pemikiran feodal. Tapi dia sangat demokratis. Keinginan anak-anakanya tidak pernah dikekang khususunya pendidikan. Kalau yang prinsip dia tegas sekali," beber ibu dua anak ini.
Sejak ditahan di Polda Lampung, Senin (5/3) malam, Novel mengaku keluarganya kehilangan sosok Wan Mauli yang diketahui sangat menyukai kopi hitam dan tidak pernah lepas dari rokok. Bahkan dirinya kerap menitikkan air mata kalau teringat sang ayahnya yang ditahan.
"Sedihlah Mas, biasanya kami kumpul keluarga. Kadang nangis kalau ingat ayah. Apalagi cucunya sering tanya kakeknya," ujar alumnus Universitas Bandar Lampung ini. (romi-rinando)
Editor : soni
Akses lampung.tribunnews.com lewat perangkat mobile anda melalui alamat lampung.tribunnews.com/m