Kolom Jurnalis

Peter Carey 'Menampar' Sejarawan Kita

SENIN malam saya selalu menyempatkan diri menonton acara Forum di TVRI yang dipandu oleh Soegeng Sarjadi, salah satu pendiri Yayasan Soegeng

Peter Carey 'Menampar' Sejarawan Kita
http://cps-sss.org/
Soegeng Sarjadi, salah satu pendiri Yayasan Soegeng Sarjadi (tengah)

Taryono
Wartawan Tribun Lampung

SENINmalam, saya selalu menyempatkan diri menonton acara Forum di TVRI yang dipandu oleh Soegeng Sarjadi, salah satu pendiri Yayasan Soegeng Sarjadi.

Berbincangan tadi malam membahas mengenai buku yang berjudul "Kuasa Ramalan-Pangeran Diponegoro dan Akhir Tatanan Lama di Jawa 1785-1855" karya Peter Carey. Kali ini Soegeng menghadirkan tiga narasumber: Fadli Zon,Radhar Panca Dahana, dan satu lagi saya lupa namanya.

Bagi saya perbincangan tadi malam sangat menarik. Terlebih ulasan dari Radhar Panca Dahana, yang lebih dikenal sebagai sastrawan Indonesia, terkait dengan kosmologi Jawa dan pengaruh revolusi Prancis terhadap perjuangan Pangeran Dipenogoro, serta peran dan kontribusi kaum budayawan  melawan kolonialisme Belanda.

Saya sebenarnya tertarik dengan ulasan Radhar tentang kosmologi Jawa yang dikaitkan dengan kultur barat. Tapi sayang, Radhar tampaknya membatasi soal ini.

Sebenarnya, soal kosmologi Jawa,  Benedict Anderson,seorang Indonesianis, pernah membahasnya dalam bukunya yang berjudul "Mitologi dan Toleransi Orang Jawa". Tapi ulasan Ben Anderson ini terlalu luas. Dan tidak mengulas tentang sosok Pangeran Dipenogoro.

***
Saya kira banyak hal yang bisa kita pelajari dari perbincangan soal buku yang berjudul asli "The Power of Propechy" (2007). Termasuk juga soal kepemimpinan, pengorbanan, dan pilihan-pilihan hidup yang diambil oleh Pangeran Dipenogoro. Dan saya kira ini relewan jika diletakkan dalam konteks kepemimpinan saat ini.

Bagaimana tidak. Sebagai putra sulung Hamengkubuwana III, seorang raja Mataram di Yogyakarta. Lahir pada tanggal 11 November 1785 di Yogyakarta dari seorang garwa ampeyan (selir) bernama RA Mangkarawati, yaitu seorang garwa ampeyan (istri non permaisuri) yang berasal dari Pacitan. Pangeran Diponegoro lebih tertarik hidup merakyat, ketimbang menjadi seorang priayi.

Dipenogoro lebih suka tinggal di Tegalrejo tempat tinggal eyang buyut putrinya, permaisuri dari HB I Ratu Ageng Tegalrejo daripada di keraton.  Tak hanya itu, Diponegoro pun menolak keinginan ayahnya, Sultan Hamengkubuwana III, untuk mengangkatnya menjadi raja. Ia menolak mengingat ibunya bukanlah permaisuri.

***
Terus terang saja, saya belum sempat membaca buku ini. Tapi saya mengapresiasi usaha yang dilakukan sejumlah pihak menerjemahkan buku ini.

Setidaknya, melalui paparan sejarah tentang pengalaman hidup Pangeran Diponegoro. Kita semua bisa belajar bagaimana Dipenogoro memimpin perjuangan melawan penjajahan Belanda, gaya kepemimpinan, serta prinsip memimpin yang berani membela kebenaran, jujur, dan konsekuen walaupun kepentingan pribadi dan keluarganya terancam. Ini menjadi penting di tengah kebangkrutan moral elite bangsa ini.

Dan tidak kalah penting, tentu saja  kita mesti ucapkan banyak terima kasih kepada Peter Carey, sang penulis buku asal Irlandia, yang menulisnya dalam kurun waktu yang panjang, yaitu sekitar 40 tahun. Saya kira apa yang dilakukan penulis asing ini mau tidak mau "menampar muka" sejarawan kita? (*)

Editor: taryono
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved