Kolom Jurnalis

Kesaksian Napi tentang Bisnis Seks

ANDA mungkin tadi malam menonton Apa Kabar Indonesia Malam di TVone.

Taryono
Wartawan Tribun Lampung

ANDA mungkin tadi malam menonton Apa Kabar Indonesia Malam di TVone. Dalam tayangan tersebut, presenter Alfito Dinova sempat melakukan wawancara via telepon dengan Wakil Menteri Hukum dan HAM Denny Indrayana.

Dalam wawancaranya, Fito menanyakan pula soal berita penamparan pegawai lapas yang diduga dilakukan Denny, selain hasil pengerebekan di Lapas Pekanbaru.

Sama seperti yang diberikan media online, Denny dengan tegas mengatakan bahwa dia tidak melakukan penamparan. Dalam wawancara tersebut, Denny pun memaparkan kronologis pengerebekan.  

Saya sendiri tidak tergoda untuk membahas soal penamparan pegawai lapas. Kalaupun Denny melakukan penamparan, saya kira itu hak dia. Lagi pula pagawai lapas adalah bawahannya.

Saya tidak hendak membela Denny. Saya kira ini mungkin saja implikasi kerja keras ia untuk melakukan pembenahan di dalam lapas dan juga rutan. Mungkin saja ada yang tidak suka dengan usaha Denny dan kawan-kawan.  Wajar saja kalau mereka melakukan perlawanan, termasuk juga menyebarkan isu-isu yang tidak benar. Atau katakanlah meminta Denny dicopot dari jabatannya sebagai wakil menteri.

***
Terus terang saja, gebrakan Denny--saat menjabat sebagai Sekretaris Satgas Mafia Hukum (PMH)-- yang melakukan sidak-sidak lapas, sempat membuat meradang Patrialis Akbar, yang kala itu menjabat Menteri Hukum dan HAM. Apalagi Denny dan konco-konconya melakukan sidak sel mewah terpidana Artalyta Suryani atau yang akrab disapa Ayin, yang kemudian di-blow up media massa.

Dengan murkanya, Patrialis mengatakan bahwa langkah Denny adalah menghancurkan Kemenkumham, sehingga membuat namanya jelek. Belakangan, Patrialis menantang Denny Indrayana untuk melakukan pembenahan di Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Ditjen Pas).

***
Kondisi di dalam lapas, termasuk juga pegawai lapasnya memang mendesak untuk dibenahi.Carut-marut itu memang tidak saya lihat secara langsung. Tapi semua itu bisa saya rasakan saat membaca buku karya Ahmad Taufik (bekas napi dan wartawan Tempo) yang berjudul "Penjara The Untold Stories".

Dalam buku yang diberi kata pengantar oleh Mas Achmad Santosa, anggota Satgas Pemberantasan Mafia Hukum, menegaskan fakta bahwa  penjara bukan lagi hotel prodeo tapi menjadi lahan bisnis. Segala taktik licik pun dipraktikan dalam setiap proses hukum, mulai dari penangkapan, penempatan dalam ruang tahanan sampai pembebasan.

Ahmad Taufik juga mengisahkan soal perilaku seks menyimpang di kalangan napi, tarif pekerja seks komersial dengan bayaran setengah harga, serta perilaku diskriminatif yang diterima sebagian napi.

Taufik juga menceritakan sekitar 80 persen tahanan yang hanya karena kasus kecil seperti pengeroyokan malah berbuat kejahatan lebih besar ketika keluar dari rutan.

Buku ini enak dibaca karena ditulis dengan gaya bertutur dan juga menampilkan komentar-komentar para napi yang namanya disamarkan. Namun demikian, pembaca akan merasa terganggu dengan beberapa kesalahan penulisan.

Buku ini sangat terjangkau. Dengan Rp 17 ribu, Anda sudah bisa merasakan mengerikannya kisah hidup dipenjara, terutama bagi napi yang berkantong cekak.(*)

Editor: taryono
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved