• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Senin, 22 September 2014
Tribun Lampung

Dua Persepsi Perubahan Lambang Pringsewu

Kamis, 10 Mei 2012 19:16 WIB
Dua Persepsi Perubahan Lambang Pringsewu
TRIBUNLAMPUNG.CO.ID/DIDIK
Bupati Pringsewu Sujadi Saddat tinjau UN
TRIBUNLAMPUNG.CO.ID- Masih ada dua persepsi mengenai gambar batang bambu, yang merupakan bambu runcing berjumlah delapan pada lambang daerah Kabupaten Pringsewu.

Menurut Kepala Bagian Hukum dan Organisasi Skretariat Kabupaten Pringsewu Waskito J S, yang menjadi persepsi pertama, jika gambar bambu melambangkan jumlah Kecamatan Kabupaten Pringsewu, dengan bertambahnya Kecamatan Pagelaran Utara maka bertambah menjadi sembilan.

"Kelemahannya, jika bertambah kecamatan akan berubah (gambar bambu). Itu yang kita khawatirkan, setiap ada kecamatan baru harus merubah," tukasnya, Kamis (10/5/2012).

Akan tetapi, merujuk dalam Peraturan Daerah Kabupaten Pringsewu Nomor 01 Tahun 2011 tentang Lambang Daerah, jumlah bambu runcing itu bisa tidak ditambah. Tertuang dalam pasal 4 angka ke 7 dalam peraturan tersebut.

"Gambar bambu runcing perlambang semangat perjuangan dengan jumlah bambu delapan, menyatakan jumlah kecamatan di Kabupaten Pringsewu sebagai modal dasar terbentuk Kabupaten Pringsewu."

Waskito mengatkan, lambang bambu itu bisa menggambarkan awal terbentuknya Pringsewu ketika dimekarkan dari Kabupaten Tanggamus memiliki modal wilayah delapan kecamatan. Sesuai UU 48 Tahun 2008 tentang Pembentukan Kabupaten Pringsewu.

Sebagai persepsi kedua, ungkap Waskito, apabila diartikan sebagai sejarah terbentuknya Pringsewu dengan delapan kecamatan bisa saja simbul kabupaten tidak dirubah. Selain itu, dalam perda tersebut tidak ada pasal yang menentukan untuk menyesuaikan dengan jumlah kecamatan.

Terpisah Bupati Pringsewu Sujadi Saddat mengatakan delapan bambu adalah semangatnya dari simbol delapan kecamatan. "Maka ketika berubah menjadi sembilan kecamatan, ketika undang-undang nanti memungkinkan, aspirasi masyarakat terus berkembang, dan sesuai aturan bisa, tidak menutup kemungkinan bisa berkembang lebih daripada sembilan," tukasnya,

Oleh karena itu, tambah Sujadi, sewajarnya yang tadinya delapan bambu merupakan simbol dari delapan kecamatan, ketika bertambah menjadi sembilan kecamatan maka bertambah menjadi sembilan bambu. "Tentunya, mekanismenya sesuai dengan aturan," ujar Sujadi.

Ia mengatakan, perubahannya melalui perda yang merupakan kombinasi dari eksekutif dan legislatif. Karena lambang daerah ini dibuat melalui perda. Jadi, apakah setiap tahun ada penambahan kecamatan, logo tersebut turut berubah?

"Saya kira perda itu kan sesuatu yang dinamis dan kita membangun bukan untuk sesuatu harga yang sekarang mati, tapi justru yang akan datang. Undang-Undang Dasar bisa diamandemen, undang-undang bisa direvisi, apa lagi perda yang memang terus kita juga tidak boleh stagnan. Sebab, dinamis," jawabnya.

"Jadi jangan terus merasa susah dengan perubahan, karena kita terus dinamis, berkembang," lanjut Sujadi.(didik)
Editor: taryono
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
0 KOMENTAR
36412 articles 7 0
Loading...
Sebelum memberikan komentar, silahkan login menggunakan
TERBARU
TERBARU
TERLAMA
TERKOMENTARI
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas