Kolom Jurnalis

Ini Lho Kunci Sukses Om Liem

PELAJARAN apa yang bisa kita petik dari seorang Business Legend, Liem Sioe Liung,

Ini Lho Kunci Sukses Om Liem
KOMPAS.COM
Om Liem
PELAJARAN apa yang bisa kita petik dari seorang  Business Legend, Liem Sioe Liung, yang  meninggal dunia di Rumah Sakit Raffles Singapura Minggu (10/6/2012) lalu? Apakah seorang pengusaha harus dekat dengan pusat kekuasaan? Macam Om Liem yang dekat dengan  Soeharto, Presiden ke-2 Indonesia.

Saya kira dekat dengan penguasa bukanlah faktor terbesar Om Liem  bisa sukses menjadi konglomerat besar negeri ini, melainkan bagaimana kemampuan Om Liem memadukan guanxi (jaringan berdasarkan kekerabatan dan pertemanan) ala Cina dan profesionalisme ala Barat.

Aplikasi guanxi ini, misalnya, tercermin ketika Om Liem mengajak Djuhar Sutanto bergabung di Grup Salim. Lalu, Om Liem juga menunjuk Frangky Welirang (menantu Om Liem)--sebagai eksekutif di Bogasari.

Namun, Om Liem juga tak segan –segan merekrut para profesional, sebagai cermin gaya barat. Dalam perbankan, misalnya, Om Liem merekrut Mochtar Riady. Ketika Mochtar bergabung pada 1975, aset BCA hanya Rp 12 miliar. Lima belas tahun kemudian, Mochtar meninggalkan aset BCA dengan aset Rp 5 triliun.

Nah, ada cerita menarik soal Mochtar Riady, selama memimpin BCA, Mochtar melibatkan putra sulungnya Andrew Taufan Riady, untuk bergabung. Suatu ketika Andrew terpeleset, yakni kalah dalam transaksi valas. Mochtar pun berang, karena aturannya dilarang oleh putranya sendiri. Maka dengan barat hati Andrew pun dipecat, meski Om Liem meminta agar Mochtar memaafkannya.

Apa yang dilakukan Mochtar saya kira adalah pelajaran yang sangat berharga. Dengan prinsip ini sangat wajar Mochtar menjadi legenda di industri perbankan dengan julukan The Magic Man of Bank Marketing.

Kembali kepada sosok Om Liem. Sisi menarik dari orang yang punya nama panggilan lain, Soedono Salim adalah  kesederhanaan.

Ini seperti kisah yang pernah dituturkan baik oleh wartawan Harian Kompas Abun Sanda maupun Soebronto Laras, Chairman PT Indomobil Sukses Internasional Tbk.

Menurut Abun Sanda, Om Liem pernah mengajak dirinya makan bubur polos, asinan sayur, telur rebus, dan ikan teri di kantornya di Gedung Indocement, Jalan Jenderal Sudirman.

Ia makan dengan lahap, menggunakan mangkok kecil dan sumpit hitam. Seusai dengan sarapan istimewa itu, ia minum chinese tea.

Lalu ia mengajak wartawan senior Harian Kompas itu duduk di ruang tamunya. Di situ ada beberapa sofa kulit. Namun, tampak benar bahwa, meski semua terawat baik, sofa sudah tua. Di beberapa bagian, warnanya mulai kusam. Om Liem dapat menangkap keheranan tamunya, lalu berkata, ”Kursi itu memang sudah tua, tetapi aduh untuk apa diganti? Masih empuk.”

Lalu ia meminta waktu sejenak untuk cukur rambut di halaman samping. Rupanya ia mempunyai tukang cukur favorit yang sudah belasan tahun mencukur rambutnya. Kursi yang digunakan kursi butut milik tukang cukur itu.

Lain lagi cerita  Soebronto Laras, bersama Om Liem ia sering nongkrong bareng di kawasan Asemka Jakarta Pusat sembari makan taoge goreng. Om Liem, kata Soebronto, sangat suka masakan Jawa dan bakso ikan. Ia jarang marah dan halus tuturnya.

Kini, Om Liem  telah istirahat dengan tenang di dalam peti mati seharga Rp 67,5 juta. Ia dikebumikan di pemakaman Chao Chu Kang, Singapura pada Senin lalu. Selamat jalan Om Liem.


Sumber: Majalah Fortune, Kompas.com, TVone, MetroTV

Penulis: taryono
Editor: taryono
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved