• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Sabtu, 1 November 2014
Tribun Lampung

Pemulihan Jiwa

Selasa, 2 Oktober 2012 11:58 WIB
Pemulihan Jiwa
1 foto
Manusia sebenarnya menghadapi persaoalan dengan diri sendiri, misalnya ketika bersedih. Namun, apa ukuran kebenarannya bahwa sedih yang dialami pantas untuk dirasakan?. Itulah persepsi, perasaan dan nuansa jiwa yang setiap saat dimainkan manusia. Perhatikanlah anak kecil, begitu mudahnya ia merasakan bahagia.
 
Contoh sederhana memang, karena sesungguhnya kebahagiaan semakin tidak mudah dirasa ketika manusia bertambah "tahu", bukan bertambah "mengerti". Meski dua kata ini serupa, tetapi berbeda pada tingkatannya. Tahu dan semakin tahu, adalah sebuah kondisi yang terkadang membuat orang menjadi semakin tidak bahagia.
 
Sebaliknya, kondisi jiwa yang mengerti dan semakin mengerti bisa mempertahankan kebahagiaan. Seperti perumpaan anak kecil berusia empat tahun, apakah dia tahu yang namanya hutang? Dapatkan dia merasa tersiksa bila dia tahu bahwa orang tuanya berhutang? Hal ini menjadi berarti dan menjadi sebuah penderitaam ketika si anak tumbuh dewasa.
 
Pertanyaan selanjutnya, pentingkah perasaan untuk dijadikan penggantung hidup? Tentu saja tidak. Oleh sebab itu, berdamailah dengan diri sendiri sebaik mungkin, sebab masalah di luar memang tidak pernah ada. "Masalah" baru akan menjadi masalah saat kita mengalami masalah dengan perasaan kita sendiri.
 
Lalu, bagaimana caranya menjadi "diri yang mengerti"? tentu saja dengan belajar. Belajar di sini bukan hanya diartikan berasal dari buku, tapi dari kenyataan hidup. Di mana sesungguhnya setipa kali selesai disakiti, itulah ajang terbaik untuk bertambah mengerti. Nyatanya, proses pematangan diri memang tidak enak dirasa. Tetapi, bila sudah matang hidup akan benar - benar ringan karena hasil dari kebijaksaanaan terbukti memudahkan hidup.
 
Perhatikanlah individu yang selalu merasa negative thinking, ia merasa rendah diri, ragu mengambil keputusan, tidak konsisten, tidak berani bertindak besar dan lain sebagainya. Ini semua adalah hasil dari kurangnya penghargaan terhadap diri sendiri, atau bisa disebut lari dari kebenaran hidup.
 
Selain itu, banyak sisi positif yang dapat diambil dari menghargai diri sendiri. Seperti akan selalu mencintai diri sendiri dan menganggapnya penting, menghargai waktu untuk hal - hal terbaik dan berdampak positif bagi masa depan. Dampak lainnya, akan memposisikan diri lebih baik dan penting dibandingkan dengan segenap persoalan yang ada, serta akan mulai berpikir dan meyakini cita - cita dari tujuan yang besar.(fer)
Editor: soni
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas