Tuhan Pun Berpuasa
Allah SWT begitu sabar terhadap manusia, cinta dan romantisme-Nya tidak berdasa kekuasaan belaka.
Makna dari Allah "berpuasa" menahan diri dari murka-Nya terhadap manusia, di mana sang pencipta ini tetap memancarkan cahaya matahari tanpa memperhitungkan berbagai pengkhiatan manusia terhadap-Nya.
Puasa adalah "milik khusus" di haribaan-Nya. Sampai - sampai Ia mengorbankan diri-Nya seakan - akan butuh sesuatu dari ibadah puasa manusia. Padahal, puasa merupakan proses dasar pembebasan dan penyelamatan manusai atas dirinya sendiri.
Dari sejumlah penjabaran tentang makna filosofis puasa, Cak Nun sangat jernih memandang semua "puasa" dari berbagai sisi. Mulai dari tahapan penjernihan pikiran manusia, hingga mampu menjernihkan batin seseorang.
Berbeda dengan salat dan zakat, ibadah puasa bersifat lebih revolusioner, radikal dan frontal. Orang yang berpuasa diperintahkan untuk berhadapan langsung atau meng-engkau-kan wakil - wakil paling wadag dari dunia. Untuk kemudian, diinstruksikan menolak dan meninggalkannya pada jangka waktu tertentu.
Perumpamaannya, bila orang salat dunia dibelakanginya, pada orang berzakat dunia di sisinya. Sedangkan pada orang berpuasa, dunia ada dihadapannya, tapi tidak boleh dikenyamnya. Di mana orang berpuasa bersikap `tidak' kepada isi pokok dunia yang berposisi `ya' dalam subtansi manusia hidup.
Puasa juga didefinisikan sebagaia keadaan menahan, di tengah kebiasaan menumpahkan, atau mengendalikan tradisi melampiaskan. Sementara ibadah haji, adalah puncak `pesta pora' dan demonstrasi dari suatu sikap di mana dunia disepelekan dan ditinggalkan. Dunia disadari sebagai sekadar seolah - olah megah.(fer)
Judul : Tuhan Pun Berpuasa
Penulis : Emha Ainun Nadjib (Cak Nun)
Penerbit : KOMPAS
Harga : Rp 48.000.-