Harga Kakao Lokal Turun Jadi Rp 15 Ribu/Kg

Harga kakao di Lampung turun drastis, dari biasanya Rp 20 ribu menjadi Rp 15 ribu per kilogram.

Tayang:
Editor: muhammadazhim
TRIBUNLAMPUNG.CO.ID - Harga kakao di Lampung turun drastis, dari biasanya Rp 20 ribu menjadi Rp 15 ribu per kilogram. Musim penghujan menjadi kendala dan penyebab utama penurunan harga karena kualitas buah dan proses pengeringan kakao menjadi terganggu.

Menurut Sucipto, petani kakao asal Lampung Tengah, harga kakao bertahan pada kisaran Rp 12 ribu-15 ribu per kilogram, tidak jauh berbeda dengan kondisi 2-3 bulan sebelumnya. "Harganya masih stabil. Apalagi kualitas buah sekarang agak jelek karena musim hujan," katanya, Selasa (11/12/2012).

Berbeda dengan harga kakao di Lampung Tengah, harga kakao di Tanggamus terbilang masih lumayan dan hanya mengalami penurunan sebesar Rp 2 ribu per kilogram menjadi Rp 18 ribu. "Harga turun Rp 2 ribu jadi sekitar Rp 18 ribu, tergantung kualitas juga. Kalau agak basah dan buahnya kurang mulus, bisa Rp 16 ribu," kata Yulian.

Penurunan harga kakao juga terjadi pada sesi perdagangan berjangka di NYMEX sejak akhir pekan lalu. Kakao yang tergolong dalam kelompok soft commodities mengalami penurunan harga karena dipengaruhi adanya kekhawatiran pelaku pasar terhadap kemungkinan kebuntuan pembahasan anggaran di Amerika Serikat yang akan menghambat pertumbuhan pekerjaan di Negeri Paman Sam.

Badan Pengawas Perdagangan Komoditi Berjangka (Bappebti) menyatakan, harga kakao berjangka untuk penyerahan Maret turun 0,3 persen menjadi 2.412 dolar AS per ton.

Bappebti juga menyebutkan, informasi harga kakao di Lampung Timur masih tergolong stabil pada level harga Rp 17 ribu per kilogram. Pada bulan sebelumnya, harga kakao di Lampung berfluktuatif, terpengaruh pergerakan harga kakao internasional.

Sementara, di Makasar, harga kakao lebih mahal dibanding di Lampung, dengan angka penjualan di tingkat petani mencapai Rp.20.000 per kg.

Berdasarkan data Kementerian Perdagangan, ekspor kakao olahan sejak 2006 tak pernah menembus angka 200.000 ton. Pada 2011, ekspor kakao olahan hanya 195.470 ton, sedangkan pengapalan biji kakao mencapai 214.740 ton.

Menurut Bappebti, peningkatan ekspor kakao olahan dipicu peningkatan kapasitas produksi industri kakao dalam negeri. Berdasarkan data Asosiasi Industri Kakao Indonesia (AIKI), kapasitas produksi industri kakao di Tanah Air meningkat dari 268.000 ton biji kakao pada 2011 menjadi 340.000 ton tahun ini.

Pertumbuhan ekspor sebesar 22,78 persen tersebut ditopang peningkatan permintaan dari sejumlah negara di Asis, terutama China dan India, yang mencapai 20 persen.(heri)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved