A PHP Error was encountered

Severity: 4096

Message: Object of class stdClass could not be converted to string

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 107

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Object of class stdClass to string conversion

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 107

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined variable: Object

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 107

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Trying to get property of non-object

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 107

Horee...Harga Kopi Petani Lampung Bisa Rp 28 Ribu per Kg - Tribun Lampung
Minggu, 23 November 2014
Tribun Lampung

Horee...Harga Kopi Petani Lampung Bisa Rp 28 Ribu per Kg

Rabu, 30 Januari 2013 10:36 WIB


TRIBUNLAMPUNG.co.id BANDAR LAMPUNG - Petani kopi di Lampung berpeluang besar mendapatkan 'berkah' meningkatnya harga jual kopi. Ini menyusul anjloknya pasokan kopi dunia dari negara-negara produsen utama di Amerika tengah dan Amerika selatan yang mencapai 40 persen. Jika peluang pada pasar dunia yang 'berlubang' ini bisa dimanfaatkan dengan baik, harga kopi dari Bumi Ruwa Jurai di tingkat petani bahkan bisa mencapai Rp 28 ribu per kilogram (kg) dari harga rata-rata yang tak pernah lebih dari Rp 19 ribu kg.

Namun, untuk mendapatkan harga jual kopi yang hampir dua kali lipat dari harga biasa tersebut, para petani harus mampu meningkatkan kualitas dan produksi kopinya dengan memperlakukan komoditas unggulan Lampung tersebut secara lebih baik dan bijak.

Menurut pengamat perdagangan Anshori Djausal, dengan mengelola kopi secara lebih baik, petani di Lampung setidaknya bisa mendapatkan harga sebesar 65 persen dari harga jual kopi di pasar internasional. “Kalau kualitasnya baik, saya pikir petani bisa menjual kopi dengan harga jauh lebih baik. Kalau sekarang, setidaknya bisa Rp 28 ribu per kilogram,” kata Anshori kepada Tribun, Selasa (29/1).

Jebloknya pasokan kopi jenis arabika yang biasa disuplai negara-negara di Amerika selatan dan Amerika tengah, mestinya membuka 'pintu lebar' bagi pemerintah dan petani kopi untuk mendorong produksi kopi, supaya tetap terjaga kualitas dan kuantitasnya.

“Peluang ini harus ditangkap. Orang luar pasti butuh kopi kita. Memang tidak serta merta kopi kita akan laku dengan harga yang lebih mahal dengan kondisi pasokan kopi dunia yang sedang anjlok. Tetap perlu upaya strategis. Apalagi beberapa bulan lagi musim panen,” ungkap Anshori.

Berdasarkan catatan Asosiasi Eksportir Kopi Indonesia (AEKI) Lampung, volume ekspor kopi Lampung mencapai 100 ribu-120 ribu ton per tahun. Dengan harga di tingkat gudang eksportir saat ini rata-rata Rp 18 ribu-19 ribu per kg, harga kopi di tingkat petani berkisar Rp 15 ribu-16 ribu per kg.

“Peningkatannya bisa hampir dua kali lipat. Tinggal sekarang mau tidak kita meningkatkan kualitasnya. Lampung memang terkenal sebagai produsen kopi, tapi sayangnya mutu kopinya juga dikenal kurang bagus,” papar akademisi senior di Fakultas Teknik Universitas Lampung ini.


Kopi untuk Dikonsumsi

Menurut Anshori, salah satu kelemahan para petani kopi di Lampung adalah dalam memperlakukan kopi yang dianggap tak lebih sebagai barang jualan. Petani mengabaikan kopi sebagai produk yang nantinya akan dikonsumsi.
Meskipun kopi memang untuk dijual, kata Anshori, biji kopi yang dipetik dan seringkali dijemur di tanah bercampur dengan pasir, nantinya akan dikonsumsi. “Kopi itu nanti masuk ke perut orang. Jadi harus dikelola dengan baik agar tidak bikin sakit perut,” imbuh pria yang juga dikenal sebagai budayawan Lampung ini.
Anshori mencontohkan, salah satu perlakuan petani terhadap kopi yang tidak baik adalah menjemur biji kopi di tanah atau aspal jalan, sehingga menyebabkan kopi olahan menjadi beraroma tanah. Banyak petani tidak memahami bahwa kopi termasuk komoditas yang sensitif. “Kalau diletakkan dekat bunga melati, aromanya nanti seperti melati. Kalau disimpan di dekat kandang kambing, aromanya juga bisa aroma kambing,” tandasnya.
Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Lampung Nairobi Saibi mengatakan, untuk meningkatkan kemampuan petani dalam mengelola kopi pascapanen secara lebih baik, diperlukan peran pemerintah. “Pemerintah harus bertanggung jawab juga dong. Petani tidak mungkin bisa mengelola produk pascapanen dengan lebih baik tanpa pendampingan pemerintah. Kalau dibiarkan lepas, tidak akan pernah bisa bagus panenannya, tetap begitu-begitu saja,” katanya.
Menurut Nairobi, pemerintah harus sering turun ke lapangan dan memberi pengarahan bagaimana cara yang ideal dalam memetik, menjemur, hingga menyimpan kopi agar kualitasnya terjaga secara baik dan memiliki nilai jual tinggi.
Pasar Berbeda
Meski pasokan kopi untuk pasar dunia mengalami penurunan drastis, Ketua Bidang Kompartemen Hukum dan Arbitrase AEKI Lampung Azischan Satib menyatakan, permintaan kopi di pasar internasional terhadap kopi Lampung tidak akan mengalami perubahan signifikan. Pasalnya, kata Azis, jenis kopi yang dikembangkan negara-negara di Amerika selatan dan Amerika tengah adalah jenis arabika. Sedangkan kopi Lampung merupakan jenis robusta.
“Jenis kopinya beda, pasarnya juga berbeda. Kalau arabika lebih banyak dikirim ke Amerika Serikat, sedangkan kopi Lampung yang masuk jenis robusta, ekspornya ke Eropa. Jadi kalaupun ada peningkatan permintaan, tidak akan signifikan,” katanya.
Menurut Azis, kopi robusta yang dipasarkan di Amerika biasanya hanya digunakan untuk campuran kopi arabika, bukan konsumsi utama. Jika dipersentasekan, campuran kopi robusta paling banyak hanya 20 persen dari kopi yang dikonsumsi warga Amerika. Selain itu, kata Azis, konsumen kopi asal Amerika selama ini cenderung memakai campuran kopi robusta yang berasal dari Vietnam, bukan dari Indonesia.
Azis mengatakan, Indonesia merupakan negara pengekspor kopi terbesar keempat di dunia dengan tujuan ekspor ke Jepang, negara-negara di kawasan Eropa, dan Amerika Serikat.
Cuma 5,8 juta ton
Negara-negara utama penghasil kopi di Amerika Tengah dan Amerika Selatan tengah kalang kabut menghadapi serangan jamur kopi atau rust. Produksi bahan minuman terpopuler di dunia itu dari Guatemala, Meksiko, Honduras, dan Kosta Rika jeblok. Sejumlah 40 persen tanaman kopi di Kosta Rika bahkan mengalami kerusakan dan tidak dapat berproduksi. Meksiko diperkirakan akan mengalami penurunan produksi kopi sebesar 2,8 persen menjadi 19,7 juta bag atau 2,6 juta ton. Guatemala bahkan diprediksi bakal kehilangan sepertiga dari total tanaman kopinya.
International Coffe Organization (ICO) memprediksi, pada tahun 2013 ini, petani kopi di seluruh dunia hanya akan memanen 144,1 juta bag atau setara 5,82 juta ton kopi.  "Dalam beberapa bulan ke depan ketika permintaan meningkat, pasar akan menyadari bahwa negara-negara selatan seperti Meksiko sampai Peru, tidak memiliki jumlah kopi seperti yang diharapkan. Akan terjadi kelangkaan kopi berkualitas tinggi," kata Direktur The Costarican Coffee Institute Ronald Peters seperti dilansir Bloomberg.
Peters menambahkan, suhu yang lebih tinggi dan curah hujan di bawah normal telah memicu menjamurnya wabah jamur dan karat daun. Ia mengatakan, banyak petani juga telah kehilangan 20 persen dari hasil panen mereka tahun ini. Harga kopi berjangka jenis arabika yang diperdagangkan di ICE Futures, New York, Amerika Serikat, turun 37 persen pada tahun 2012. Hal ini ditengarai akibat melimpahnya produksi kopi Brazil. 
Sedangkan untuk tahun 2013 ini, harga kopi masih bisa berubah tergantung wabah rust (di Kosta Rika dikenal dengan sebutan roya). "Jika produksi tanaman kopi dari Amerika Tengah lebih rendah, maka ini bagus dari sisi harga," kata analis Rabobank International di London, Keith Flury.
Stefan Uhlenbrock, analis di Ratzeburg, Jerman, mengatakan, merosotnya harga kopi tahun lalu diperkirakan berpengaruh terhadap daya beli petani dalam membeli bahan kimia untuk mengobati tanaman. Jika demikian, Stefan memperkirakan, wabah ini akan menyebar ke negara-negara lain di mana tahun lalu kopi mereka dibeli dengan harga rendah.
Menyikap problem ini, pemerintah di negara-negara produsen kopi telah menyiapakan anggaran khusus. Pemerintah Guatemala misalnya, mengalokasikan anggaran 40 juta dolar AS untuk membantu petani mengatasi kerugian. Sementara Presiden Chinchilla memastikan pemerintah Kosta Rika akan memberikan bantuan kepada petani yang terkena dampak. Untuk memerangi wabah jamur itu, petani kopi di negara-negara berkembang di Amerika Tengah setidaknya membutuhkan dana 300 juta dolar AS.
Meski serangan jamur melanda Amerika Tengah, namun secara keseluruhan dipastikan terjadi kontraksi pada pasokan kopi di pasar dunia. Dalam beberapa bulan ke depan ketika permintaan meningkat, pasar akan menyadari bahwa dunia sedang krisis kopi, khususnya kopi dengan kualitas tinggi. Krisis akan menjadi serius karena tren gaya hidup masyarakat dunia masa kini yang telah mendongkrak peningkatan konsumsi kopi dunia sebanyak lima persen setiap tahunnya. Dalam ajang Indonesian Coffee Festival (ICF), Agustus 2012 lalu, diungkapkan, ada sekitar 100 miliar cangkir kopi, atau sekitar 165,9 ton kopi yang diseduh setiap hari di seluruh dunia.(Tribun Lampung Cetak)

Editor: rudikamaru

TRIBUNnews.com © 2014

About Us

Help

Atas