Berkunjung ke Pesantren Khusus Waria

Peserta Sekolah Pluralisme Kewargaan mendapatkan kesempatan untuk mengunjungi Pondok Pesantren khusus waria di daerah Notoyudan,

Citizen Reporter
Oki Hajiansyah Wahab

Peserta Sekolah Pluralisme Kewargaan yang diselenggarakan CRCS UGM mendapatkan kesempatan untuk mengunjungi Pondok Pesantren khusus waria di daerah Notoyudan, Yogyakarta.

Kami mendengarkan dengan seksama penjelasan Ibu Mariani pimpinan pondok pesantren dan Mba Yuli tokoh waria yang menjelaskan tentang berbagai usaha yang mereka lakukan.

Pondok pesantren yang buka setiap Senin dan Kamis ini digeluti oleh 25 orang waria. Mereka belajar agama sejak sore-malam hari.

Beberapa kyai dan ustad datang setiap Senin dan Kamis mengajarkan agama pada mereka. Mereka memahami bahwa usaha mereka untuk kembali ke jalan agama tidaklah mudah ditengah berbagai stigma dan diskriminasi yangmereka hadapi.

Saya melihat semangat dan biat tulus para waria untuk berubah, bahwa mereka yakin Tuhan akan mengubah nasib mereka jika mereka berusaha dengan sungguh-sungguh.

"Saya yakin, Tuhan akan mendengar doa saja," ujar Mba Mariani, seorang senior para waria yang memulai merintis pondok pesantren.

Dalam rumah sederhana tampak foto-foto bersama Ibu Sinta Nuriyah Wahid, istri (Alm) Gus Dur. Mereka berharap kelak pemerintah akan memberika perubahan kebijakan yang diskriminatif.(Wakos)

Editor: muhammadazhim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved