Operasi Pasar Daging Bakal Sulit Dijalankan

Langkah pemerintah menggandeng Badan Urusan Logistik (Bulog) untuk menurunkan harga daging melalui operasi pasar dinilai bakal sulit

Tayang:
Editor: taryono
TRIBUNLAMPUNG.CO.ID - Langkah pemerintah menggandeng Badan Urusan Logistik (Bulog) untuk menurunkan harga daging melalui operasi pasar dinilai bakal sulit terealisasi. Stok dan pasokan sapi dari peternak ke pedagang yang masih terbatas, menjadi kendala utama harga daging sulit turun.

Ketua Persatuan Pedagang Daging (PPD) Bandar Lampung Tampan Sujarwadi mengatakan, masalah utama yang menyebabkan harga daging saat ini melambung hingga Rp 95 ribu per kilogram terletak pada pasokan dan stok sapi.

Minimnya pasokan dan sulitnya para pedagang mendapat sapi dari peternak atau perusahaan peternakan telah menyebabkan harga sapi melonjak pada kisaran Rp 35 ribu-36 ribu per kilogram (kg) bobot hidup.

"Dengan harga segitu, kami tidak mungkin jual daging di bawah Rp 90 ribu per kg. Kalau misalnya nanti pemerintah menggelar operasi pasar dan menjual daging Rp 75 ribu, bisa mati (usaha) kami," kata Tampan, Rabu (15/5/2013).

Menurut Tampan, pedagang bisa saja menjual daging sesuai keinginan pemerintah yang menargetkan harga daging turun jadi Rp 75 ribu per kg, tapi dengan syarat harga sapi hidup dari peternak harus turun jadi Rp 28 ribu per kg, seperti tahun lalu.

"Kalau di atas Rp 28 ribu, pedagang pasti rugi. Sekarang saja sudah banyak pedagang daging gulung tikar. Yang jadi masalah, kalau harga sapi diturunkan, peternaknya mau tidak. Pemerintah kan juga ingin menjaga peternak kita supaya bisa untung," tandasnya

Jika nantinya dalam operasi pasar yang digelar Bulog turut melibatkan pedagang dalam pendistribusian daging, Tampan menilai hal itu juga akan sulit dilakukan.

Pasalnya, daging sapi impor yang bakal didistribusikan pemerintah adalah daging beku. Tampan menjelaskan, sebagian besar pelanggan atau pembeli daging masih menjual dagangannya ke pedagang bakso. Dan pedagang bakso tidak mau menggunakan daging beku untuk membuat bakso.

"Sebanyak 70 persen pelanggan kami adalah pedagang bakso, dan mereka tidak mau pakai daging beku untuk buat baksonya. Nah kalau kami harus jual daging beku, kemana kami harus jual," kata Tampan.

Menurut Tampan, konsumen daging di Bandar Lampung terbagi menjadi tiga kategori utama, yakni konsumen daging untuk bakso (para pedagang bakso), rumah makan, serta golongan restoran, hotel, katering dan rumah tangga.

Dari ketiga golongan tersebut, pedagang bakso merupakan konsumen terbesar para pedagang daging dengan persentase mencapai 70 persen.

Sedangkan konsumen yang berasal dari rumah makan hanya mencapai 25 persen, dan selebihnya terbagi ke dalam konsumen hotel, restoran, rumah tangga dan katering.

"Jadi pembagian kasarnya begitu. Kalau konsumennya pedagang daging paling banyak itu ya untuk bakso. Konsumsi rumah tangga sangat sedikit," papar Tampan.

Meski demikian, ia mengatakan, langkah pemerintah untuk menurunkan harga daging patut diapresiasi. Hanya saja, ia mengimbau agar langkah yang ditempuh pemerintah tidak merugikan kalangan pedagang.

Para pedagang sangat berharap harga daging bisa turun kembali pada kisaran Rp 70 ribu per kilogram. Dengan harga segitu, perdagangan daging di Bandar Lampung bisa kembali bergairah dan para pedagang yang beralih pekerjaan bisa kembali lagi berjualan daging.

"Tentu kami juga berharap harga daging bisa Rp 70 ribu. Dengan harga segitu, daging lebih terjangkau masyarakat. Kalau harga terjangkau, masyarakat yang beli daging pasti makin banyak dan pedagang bisa jualan lagi," kata dia.(heribertus sulis)   

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved