Liga Champions

Klimaks Perseteruan Tiga Tahun

Lolosnya Bayern Muenchen dan Borussia Dortmund ke final Liga Champions menorehkan sejarah baru.

Tayang:
Editor: soni
TRIBUNLAMPUNG.co.id - Lolosnya Bayern Muenchen dan Borussia Dortmund ke final Liga Champions menorehkan sejarah baru. Pertemuan mereka akan menjadi all German final pertama di pentas antarklub paling bergengsi se-Eropa tersebut. Menilik pencapaian dan progress yang diraih selama tiga tahun terakhir, rasanya tak ada klub Jerman lain yang lebih layak mendapatkan tiket terakhir menuju partai puncak selain mereka.

Banyak pihak menganggap, partai final nanti akan menyengat karena bumbu transfer Mario Goetze dari Dortmund ke Bayern. Namun, transfer menghebohkan Wunderkid Jerman itu sepertinya hanyalah twist menjelang klimaks dari kisah persaingan Die Roten dan Die Schwarzegelben selama tiga tahun terakhir.

Sejatinya, persaingan antara Bayern dan Dortmund belumlah mencapai level sepanas lakon El Clasico Barcelona vs Real Madrid yang bisa membuat seonggok kepala babi terbang ke lapangan. Tak lain karena Dortmund yang sejak tahun 2003 berkutat dengan krisis finansial dan ancaman pailit. Itu membuat mereka lebih banyak berkutat di papan tengah dan berusaha bertahan di Bundesliga 1. Kontras dengan Bayern yang nyaris tak pernah mengalami kesulitan keuangan sehingga bisa membangun kekuatan skuad tanpa ancaman kebangkrutan.

Jika dianalogikan, di Bundesliga, Bayern adalah seorang bocah kaya dan disegani, bahkan mungkin juga dibenci semua teman-temannya, serta selalu tahu apa yang diinginkannya, dan akan berupaya mendapatkannya. Adapun Dortmund adalah bocah underdog yang tak diperhitungkan sejak dilanda krisis finansial dan ancaman pailit pada tahun 2003.

Sampai kemudian kejutan terjadi pada musim 2010-11, saat Juergen Klopp mempersembahkan gelar juara Bundesliga yang nyaris satu dekade tak mampir di Dortmund. Bukan hanya itu, Dortmund bahkan sukses mencundangi Bayern dalam dua kali pertemuan di Bundesliga. Sementara Bayern terlempar ke posisi ketiga klasemen, bahkan tak mendapat gelar apa pun setelah tersisih di DFB Pokal dan Liga Champions.

Harapan Bayern untuk menebus musim hampa gelar sempat merekah di musim berikutnya saat ditangani Jupp Heynckes, terutama saat mereka menjadi Wintermeister (juara musim dingin). Apes, multi-tasking di Liga Champions dan DFB Pokal melengahkan Die Roten, dan Borussia Dortmund kembali membuyarkan harapan mereka merengkuh Meisterschale.

Seolah belum cukup, Dortmund kembali menjegal Bayern di final DFB Pokal lewat hat-trick Robert Lewandowski yang memastikan kemenangan 5-2. Luka Bayern semakin lengkap setelah mereka takluk dramatis oleh Chelsea di kandang sendiri di Allianz Arena pada final Liga Champions. Bayern berada di titik terendah mereka.

Hanya saja, Bayern bukanlah tim yang rela begitu saja kehilangan gelar terlalu lama. Setelah dua tahun yang penuh bencana, perombakan dilakukan. Mario Mandzukic, Javi Martinez, Dante, dan Xherdan Shaqiri didatangkan demi menambah kedalaman skuad.

Pembelian empat pemain ini terbukti tepat guna. Mandzukic tampil impresif di lini depan dan menepikan Mario Gomez. Martinez membuktikan layak dihargai 40 juta euro. Dante menguatkan lini belakang Bayern dan Shaqiri muncul sebagai sosok super-sub andalan.

Seolah tak mau membuang waktu, Bayern menjalankan misi "balas dendam" atas Dortmund dengan tak memberi kesempatan Dortmund bersaing di liga dan memastikan gelar juara Bundesliga saat pertandingan bahkan masih tersisa enam laga, serta menyingkirkan Dortmund di babak perempat final DFB Pokal.

Hanya dalam hitungan hari, keduanya akan bertemu untuk terakhir kali dalam musim ini dalam pertandingan paling prestisius di antara klub Eropa.(kcm)

Sumber: Kompas.com
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved