Kolom Jurnalis

Mobil Murah, Strategi Menghadapi Pasar Bebas Asean

Kehadiran mobil murah, mau tidak mau memaksa bangsa ini membangun ratusan pabrik komponen mobil murah.

Mobil Murah, Strategi Menghadapi Pasar Bebas Asean
KOMPAS.COM
toyota Agya dan Daihatsu Ayla 

Menariknya, meski baru diluncurkan dalam hitungan minggu, keberadaan mobil murah terbukti meningkatkan investasi industri komponen dalam negeri. Dari 100 industri komponen yang diharapkan  pemerintah, saat ini sudah terealisasi 70 persennya.

Itu dibuktikan dengan adanya lima pabrik mobil baru dan sekitar 70 pabrik komponen otomotif.

Siap Bersaing di Pasar Bebas Asean

Industri otomotif Indonesia saya kira tidak perlu cemas menghadapi pasar bebas Asean 2015. Sebab, pemerintah saat ini sudah menggulirkan produksi mobil murah dan ramah lingkungan.

Dengan demikian, Indonesia siap bersaing dengan Thailand di Asean. Bahkan mantan Wakil Presiden RI Jusuf Kalla mengaku optimistis dalam waktu dua tahun ke depan bisa menyamai kedudukan Thailand di industri otomotif.

Apalagi ini didorong  masuknya investasi sejumlah agen pemegang merek yang tak cuma menaikkan kapasitas produksi, tetapi membangun pabrik baru.

Bergairahnya industri otomotif Indonesia sudah pasti bakal memberikan dampak di berbagai sektor, mulai dari lapangan pekerjaan baru, investasi, peluang melakukan ekspor, hingga peningkatan pendapatan pajak.

Sementara di sektor manufaktur, diperkirakan sekitar 30  ribu pekerja bakal terserap. Sedangkan di luar itu, diperkirakan 40 ribu tenaga kerja yang bakal terserap.

Ke depan para produsen mobil murah dan ramah lingkungan harus memenuhi 60 persen komponen yang sebelumnya diimpor dari luar negeri.

Langkah yang mesti dilakukan adalah membangun pabrik komponen lokal. Apalagi saat ini baru berdiri 70 pabrik komponen.

Halaman
1234
Editor: taryono
Sumber: Tribun Lampung
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved