Konferensi WAMY di Maroko: Kaum Muda untuk Perubahan Dunia

Pembukaan Conference WAMY ke 12 di Maroko kali ini mengangkat tema "Youth In A Changing World". Acara ini dihadiri oleh perwakilan 90 negara.

Konferensi WAMY di Maroko: Kaum Muda untuk Perubahan Dunia
ist
Robert Edy Sudarwan 

Citizen Reporter: Robert Edy Sudarwan (PP KAMMI asal Lampung)

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID - Pembukaan Conference WAMY ke 12 di Maroko kali ini mengangkat tema "Youth In A Changing World". Acara ini dihadiri oleh perwakilan 90 negara dan dilaksanakan di Marakech (Kota Merah).

Tema di atas adalah lanjutan dari tema-tema konferensi sebelumnya yang lebih menekankan bagaimana peran pemuda dalam perubahan dunia. Hal tersebut diungkapkan oleh Sekjend WAMY Sholeh bin Sulaiman Al Hubaibi pada pemukaan acara di Aula Hotel Riyal Magador Aqdal.

Sudah menjadi sunatulllah jika dunia akan terus berubah, hal itu di ungkapkan oleh Imam dan Khatib Masjid Masjidil Harom Syekh Sholeh bin Abdillah bin Humaid dalam taujiahnya.

Beliau yang juga anggota ulama senior Saudi Arabia ini mengatakan jika tidak ada keinginan dari umat islam untuk berubah, maka Allah SWT tidak akan merubah suatu kaum itu, sebelum kaum tersebut merubah dirinya sendiri, hal ini pun sudah menjadi kode dari Allah SWT kepada manusia untuk selalu berfikir dan senantiasa tumbuh melakukan perubahan.

Anggota penasehat kerajaan ini juga menyampaikan bahwa perubahan adalah keniscahyaan yang menjadi hakekat dari setiap individu yang hidup. Individu hendaknya mampu menjadikan dirinya sebagai subjek dari perubahan. Perubahan yang dimaksud tentunya adalah perubahan yang membawa pada satu kondisi dimana kesejahteraan sosial adalah harga mutlak yang harus di capai.

Peran dunia muslim hari ini pun menjadi soratan untuk kita lihat capaiannya di dalam melakukan perubahan. Senada dengan hal tersebut Mantan Presiden Sudan Abdullah Suar al Dhahabi mengatakan bahwa Islam harus hadir dengan membawa solusi yang kongkrit di dalam permasalahan umat. Dan capaian ini harus di deskripsikan secara rinci terkait indikator keberhasilannya.

Hal ini pun dipertegas oleh beliau yang juga menjadi Ketua Dewan Syuro PPI di Sudan dengan memberikan contoh seperti halnya di Yordania. Kecenderungan dari pemuda di sana lebih tertarik pada kajian sosialis, karena mereka menganggap jika untuk tata kelola negara sudah selesai dengan nilai islam. Namun pada sistem perekonomian mereka masih merasakan Islam belum hadir membawa tawaran perbaikan.

Berbagai persoalan dunia, dalam skala prioritas menempatkan pemuda sebagai sesuatu yang harus perhatikan. Pada tataran kaderisasi, pemuda Islam dalam hal ini mengalami banyak reduksi dalam konteks dirinnya sebagai subjek perubahan.Kontribusinya sebagai bagian dari entitas cadangan kepemimpinan, secara utopis menjadi hayalan semu yang tidak bisa terelisasi jika tidak ada ketersambungan antara peran pemuda dan ulama di dalam membinanya.

Pembahasan pada forum masih berlangsung normatif dan belum pada tataran konstruktif untuk merumuskan hal yang menjadi prioritas WAMY dalam mengelola pemuda muslim dunia untuk kontribusinya di dalam permasalahan umat. Pada penutupan forum disampaikan bahwa masih banyak kondisi dimana Islam Absen di dalam memecahkan problem umat. Khususnya pada hal ini pemuda muslim yang menjadi sorotan utama.

Forum akan berlanjut esok hari dan akan membahas hal yang lebih khusus dalam kaitannya untuk pengelolaan masa depan dunia Islam untuk kesejahteraan umat dunia. (Wakos Gautama)

Penulis: wakos reza gautama
Editor: Heribertus Sulis
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved