CITIZEN JOURNALISM

Aroem dan Delegasi Golkar Melihat Pembangunan di Harbin, China

Uniknya, petani di sini tidak bisa memiliki lahan pertanian, hanya hak guna/hak pakai dengan jangka waktu maksimum 30 tahun.

Aroem dan Delegasi Golkar Melihat Pembangunan di Harbin, China
ISTIMEWA
Anggota DPR RI Fraksi Partai Golkar dari Daerah Pemilihan Lampung, Dwie Aroem Hadiatie (2 kiri), bersama delegasi Partai Golkar berfoto di depan rumah penduduk Desa Hongxin, wilayah Acheng, Provinsi Heijongliang, China, Senin (24/8/2015), 

Citizen Reporter
Dwie Aroem Hadiatie
Anggota DPR RI
Fraksi Partai Golkar Daerah Pemilihan Lampung

PERJALANAN ke Kota Harbin, Ibu Kota Provinsi Heilongjiang, China, memang melelahkan. Penerbangan dari Jakarta hingga mendarat di Bandara Taiping Harbin sekitar 15 jam, belum termasuk transit 3 jam di Bandara Xiamen dan Nanjing.

Alhamdulillah, sebanyak 13 orang delegasi Partai Golkar, dipimpin oleh Hajrianto Tohari, tiba dengan selamat di Harbin, Sabtu (22/8/2015). Di sini, kami akan mengadakan pertemuan dengan delegasi dari CPC, partai yang berkuasa di China.

Meski itu merupakan pertemuan antara kedua partai, namun banyak hal penting yang bisa kami petik. Saya yang berasal dari daerah pemilihan Lampung mencoba melihat dan mencermati bagaimana pembangunan di sini, yang tentunya bisa diperbandingkan dengan di Lampung.

Harbin adalah sebuah kota sub-provinsi dan ibu kota Provinsi Heilongjiang di timur laut China. Letaknya di tepi selatan Sungai Songhua. Harbin merupakan kota industri yang makmur.

Harbin yang dikenal sebagai salah satu kota utama di China, juga merupakan pusat politik, ekonomi, ilmiah, budaya, dan komunikasi di China Timur laut.

Sebagaimana dilansir wikipedia, iklim Harbin dipengaruhi angin musim dingin dari Siberia. Suhu rata-rata di musim panas adalah 21,2 C. Sebaliknya, suhu rata-rata di musim dingin adalah -16,8 C, dengan kemungkinan suhu jatuh hingga -38.1 C.

Harbin memiliki nama julukan "Mutiara di Leher Angsa" karena bentuk Heilongjiang yang menyerupai seekor angsa, atau sebagai "Moskwa Oriental" atau "Paris Oriental" karena arsitekturnya. Harbin juga dikenal sebagai "Kota Es" karena musim dinginnya yang panjang dan dingin.

Pada Senin (24/8/2015), kami sempat berkunjung ke Desa Hongxin, sekaligus melihat pembangunan dengan konsep dari desa, di wilayah Acheng.

Desa Hongxin adalah lumbung padi bagi wilayah Acheng. Mayoritas penduduknya petani dan etnis minoritas, yaitu etnis Korea Selatan. Migrasi Korea-China sudah terjadi sejak abad ke-17 M.

Halaman
12
Editor: Andi Asmadi
Sumber: Tribun Lampung
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved