Laporan Tribun dari Mekkah

Ingin Segera Pulang, Tri Lalui Air Bah Setinggi Paha

Selesai melaksanakan umrah, Tri Kuncorowati (45) meninggalkan Masjidil Haram menggunakan taksi, Jumat (11/9/2015) sekitar pukul 16.45 Was

Ingin Segera Pulang, Tri Lalui Air Bah Setinggi Paha
Seorang petugas PPIH Sektor 6 Mekkah sedang melihat badai yang terjadi, Jumat (11/9/2015) sore. 

Laporan Reporter Tribun Lampung Ridwan Hardiansyah

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, MEKKAH - Selesai melaksanakan umrah, Tri Kuncorowati (45) meninggalkan Masjidil Haram menggunakan taksi, Jumat (11/9/2015) sekitar pukul 16.45 Was. Belum sampai di hotel tempat ia menginap, badai telah menghadang perjalanannya sekitar pukul 17.00 Was. Ia dan dua orang temannya akhirnya terjebak di dalam taksi, yang tak mampu melanjutkan perjalanan.

"Karena saya belum umrah wajib, maka saya pergi umrah ke Masjidil Haram. Waktu pulang naik taksi, ketemu badai," kata Tri, Sabtu (12/9/2015).

Badai dimulai dengan awan hitam dan angin kencang. Karena angin yang sangat kencang, Tri menuturkan, mobil-mobil yang terparkir di pinggir jalan, bisa bergerak sendiri.

"Pembatas-pembatas jalan juga banyak yang roboh," ucap petugas Tenaga Kesehatan Haji Indonesia (TKHI) asal Lampung itu.

Seiring dengan awan hitam dan angin kencang, kilat mulai menyambar-sambar. Disambung dengan, gemuruh petir. Serta, hujan deras yang membasahi bumi.

"Sopir taksi kami memilih melewati jalan-jalan kecil. Saya sudah takut saja. Jangan-jangan, saya mau diculik. Tetapi akhirnya, saya paham. Kemungkinan, sopir ingin menghindari macet karena mobil jalan sendiri tadi," papar Tri.

Perjalanan Tri ternyata tak berlangsung lama. Si sopir lantas menghentikan taksinya. Dalam keadaan cuaca buruk, sopir tersebut lalu mengajak Tri berbincang dalam bahasa Arab.

"Saya tambah bingung. Dia bicara apa, kami tidak paham. Masak, kami mau diturunkan saat kondisi seperti itu, dan tidak tahu ada di mana," jelas Tri.

Karena tidak saling memahami, sopir itu lalu keluar dari taksinya. Ia pergi ke arah sebuah toko. Saat itu, Tri menyadari, sopir tersebut hendak meminta penumpannya berteduh dahulu.

"Kami ikut keluar lalu masuk toko. Penjaga toko juga menyuruh masuk. Dia bilang Indonesi masuk. Di dalam, ternyata sudah banyak jamaah sedang berteduh juga. Ternyata, sopir menghentikan mobil karena sudah tidak bisa melihat ke depan. Karena, debunya tebal," urai Tri.

Sekitar hampir satu jam berada di toko, hujan mereda. Tetapi kemudian, Tri menuturkan, air bah setinggi paha melintas di jalan. Tetapi, air tersebut tak sampai membanjiri toko. Sebab, toko-toko dibangun lebih tinggi dibandingkan jalan.

"Walaupun dilarang, kami nekat menyeberangi jalan. Sebab kalau tidak seperti itu, kami tidak pulang. Alhamdullillah, kami sampai hotel juga," terang Tri.

Penulis: Ridwan Hardiansyah
Editor: soni
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved