Laporan Tribun dari Mekkah

Jamaah Sakit Didata untuk Safari Wukuf

Safari wukuf adalah kegiatan memperjalankan jamaah haji sakit, yang tidak mampu melaksanakan wukuf sendiri.

Jamaah Sakit Didata untuk Safari Wukuf
Tribunlampung/Ridwan
Jamaah asal Lampung yang sempat menjalani perawatan di poliklinik sektor beberapa waktu lalu. 

Laporan Reporter Tribun Lampung Ridwan Hardiansyah

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, MEKKAH - Petugas Tenaga Kesehatan Haji Indonesia (TKHI) kelompok terbang (kloter) sedang mendata jamaah haji, yang akan melaksanakan safari wukuf.

Safari wukuf adalah kegiatan memperjalankan jamaah haji sakit, yang tidak mampu melaksanakan wukuf sendiri. Safari wukuf dilakukan di kendaraan yang melintasi padang arafah ketika waktu wukuf berlangsung.

Petugas TKHI Kloter 11 Embarkasi Jakarta (JKG) Helly Zafni mengungkapkan, pendataan jamaah sakit yang kemungkinan akan melaksanakan safari wukuf, dilakukan mulai 14-18 September 2015.

"Jamaah yang mengikuti safari wukuf berdasarkan kriteria penyakit yang telah ditentukan," tutur Helly, Selasa (15/9/2015).

Adapun, kriteria penyakit tersebut antara lain fraktur tungkai bawah, stroke akut, asma persisten sedang berat, hipertensi resisten, hingga gangguan jiwa berat.

"Tidak serta merta, jamaah yang memiliki penyakit-penyakit tersebut langsung diikutkan safari wukuf. Kami mendata, nanti ada dokter spesialis yang memeriksa. Kalau kata dokter spesialis tidak perlu disafarikan, ya berarti tidak," jelas Helly.

Ketua Kloter 11 JKG Wasril Purnawan menuturkan, dari informasi yang beredar, safari wukuf akan menggunakan bus. Kondisi tersebut berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya yang menggunakan ambulans.

Karena menggunakan bus, maka jamaah sakit yang menggunakan alat bantu kesehatan, pelaksanaan wukufnya akan diwakilkan. "Informasi yang beredar seperti itu. Tetapi, pembahasan teknisnya belum," kata Wasril.

Pelaksanaan safari wukuf, lanjut Wasril, biasanya mengalami hambatan justru dari jamaah. Karena tidak mau terpisah dengan keluarga, maka jamaah yang sakit kerap mengaku sehat saat pendataan dilakukan. Padahal, pelaksanaan safari wukuf dilakukan untuk membantu jamaah sakit supaya tetap bisa melaksanakan wukuf.

Penulis: Ridwan Hardiansyah
Editor: Reny Fitriani
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help