Laporan Tribun dari Mekkah

Jamaah Lampung Cukur Gundul

Hampir lewat tengah malam saat Agus (70) disambut belasan orang tak jauh dari Masjidil Haram, Mekkah, Minggu (27/9/2015).

Laporan Reporter Tribun Lampung Ridwan Hardiansyah

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, MEKKAH - Hampir lewat tengah malam saat Agus (70) disambut belasan orang tak jauh dari Masjidil Haram, Mekkah, Minggu (27/9/2015).

Ketika itu, sebuah pangkas rambut di depan Terminal Syieb Amier, menjadi tempat terpadat selain Masjidil Haram. Ribuan jamaah haji hendak melaksanakan sunah Rasulullah dengan mencukur gundul rambutnya, setelah melaksanakan tawaf ifadah dan sai.

"Pendek satu centi 10 riyal, gundul 15 riyal," teriak seorang tukang cukur berkebangsaan Bangladesh dengan bahasa Indonesia.

Hampir tak terjadi tawar menawar di tempat itu. Setelah menyampaikan keinginannya supaya rambutnya dipotong satu centimeter (cm), Agus pun langsung duduk dan memasrahkan helaian-helaian rambutnya jatuh ke lantai. Tak kurang dari lima menit, seluruh rambut Agus pun panjangnya hanya satu cm.

Sebagian besar jamaah haji Lampung baru mencukur gundul rambut mereka saat tahalul setelah melaksanakan tawaf ifadah. Secara harfiah, tahalul berarti dihalalkan kembali larangan-larangan selama berihram. Tahalul ditandai dengan mencukur rambut.

Pada puncak ibadah haji, tahalul dilaksanakan dua kali, yaitu sesudah melempar jumrah aqabah dan setelah tawaf ifadah. Meski sebagian besar bercukur gundul pada tahalul kedua, beberapa jamaah haji memilih mencukur gundul rambut pada tahalul pertama.

"Kalau dicukur gundul pada tahalul pertama, nanti tidak ada yang bisa digunting pada tahalul kedua. Walaupun, ada yang beranggapan cukup simbol saja kalau rambutnya sudah tidak ada pada tahalul kedua. Tetapi, saya pilih cukur gundul waktu tahalul kedua," terang Agus.

Baca selengkapnya di koran cetak Tribun Lampung edisi Selasa, 29 September 2015.

Penulis: Ridwan Hardiansyah
Editor: soni
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help