TribunLampung/

Program Rumah Subsidi Bagi MBR

Sempat Pindah-pindah, Dian Akhirnya Punya Rumah Sendiri

PUPR telah menggulirkan program subsidi kepemilikan rumah dengan harga terjangkau bagi masyarakat berpenghasilan rendah.

Sempat Pindah-pindah, Dian Akhirnya Punya Rumah Sendiri
Tribunlampung/Gustina
SUBSIDI - Perumahan Permata Asri di Jati Agung, Lampung Selatan. Ini merupakan rumah subsidi yang bisa dibeli secara kredit oleh masyarakat berpenghasilan rendah. 

Laporan Reporter Tribun Lampung Gustina Asmara

Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) telah menggulirkan program subsidi kepemilikan rumah dengan harga terjangkau bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR). Setelah beberapa tahun berjalan, program ini berhasil membuat sebagian masyarakat yang semula sulit memiliki rumah, menjadi lebih mudah.

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID -  Suasana di Perumahan Permata Asri, Kabupaten Lampung Selatan, nampak ramai, Selasa (15/11/2016) sore. Sejumlah ibu muda terlihat berbincang-bincang di depan rumah mereka. Di lahan seluas beberapa hektare ini berdiri ratusan rumah. Mulai dari rumah komersil hingga subsidi.

Salah satunya dihuni Novi. Ibu dua anak ini menceritakan, selama hampir 5 tahun ia dan suami hidup berpindah-pindah karena belum memiliki rumah sendiri. Sempat empat tahun tinggal di rumah dinas karena sang suami PNS di Lampung Barat. Kemudian saat dipindahkan tugas ke Bandar Lampung, ia tinggal di rumah mertuanya di Panjang.

Menurut dia, dengan kondisi hanya suami yang bekerja dan mereka sudah memiliki dua anak, sulit untuk membangun rumah sendiri atau membeli secara tunai. "Uangnya gak kekumpul kalau mau beli sendiri. Karena itu, saat ada program rumah subsidi dari pemerintah, dengan uang muka kecil dan cicilannya ringan, ia dan suaminya langsung mencari-cari perumahan. Dapatlah di sini. Kebetulan lokasi ini cukup dekat dengan tempat suami saya kerja," ceritanya.

Novi menceritakan, ia dan suami mengambil kredit hingga 20 tahun. "Cicilannya tidak sampai Rp 750 ribu sebulan. Jadi sangat terjangkau," ujar dia. Saat disinggung mengenai ukuran rumah, ia mengatakan, tipe 30 dengan luas lahan 120 m2. Menurut dia, aslinya lahan cuma 60 m2. Kelebihan tanah yang ada, mereka membayarnya. "Lahannya sedikit besar, jika nanti ada uang tambahan bisa diperbesar rumahnya," ujar dia ramah.

Perasaan senang bisa memiliki rumah juga diungkapkan Dian. Wanita berhijab ini mengaku baru 1,5 bulan terakhir tinggal di sana. Saat Tribun datang, ia terlihat sedang sibuk melihat-lihat tukang yang sedang memasang saluran air ke rumahnya. Menurut dia, rumah tersebut ia beli secara kredit melalui bank BTN dengan jangka waktu 20 tahun. Cicilannya Rp 750 ribuan.

Sama seperti Novi, Dian pun mengaku jika rumahnya ini mendapat kelebihan tanah. Yakni sekitar 60 m2, sehingga ada tambahan biaya yang harus ia bayar. Meski begitu, ia mengaku tidak mempermasalahkannya. "Kalau tanahnya lebar, kan nanti bisa dikembangkan rumahnya. Ini juga di depan jalan, jadi suatu hari juga bisa buka-buka usaha," kata dia.

Saat disinggung mengenai kualitas rumah, ia mengaku, sudah cukup bagus. Lantai keramik, atap baja ringan, plafon gypsum. Hanya saja, hampir semua rumah subsidi belum menyedikan dapur dan juga sumur berair.

Seperti rumah Dian ini, pengembang hanya menyediakan sumur bor dengan kedalaman 15 meter. Sayangnya, dengan kedalaman tersebut, belum ditemukan mata air. Jadi belum ada air yang mengalir. Karena itu, warga yang tinggal di sini, harus memperdalam sumur bor tersebut hingga menemukan mata air. Dan tentu itu menambah biaya lagi.

Halaman
1234
Penulis: Gustina Asmara
Editor: Reny Fitriani
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help