Siswi SD Dibunuh

Retno Riani: Orangtua Wajib Bangun Komunikasi Dengan Anak

Bullying verbal, berupa penindasan dengan memberi nama julukan kepada seseorang, dapat menyebabkan berbagai efek negatif. Puncaknya dalam kasus siswa

Retno Riani: Orangtua Wajib Bangun Komunikasi Dengan Anak
Pembunuh siswi SD 

Laporan Reporter Tribun Lampung Heru Prasetyo

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, BANDAR LAMPUNG - Bullying verbal, berupa penindasan dengan memberi nama julukan kepada seseorang, dapat menyebabkan berbagai efek negatif. Puncaknya dalam kasus siswa SMP ini adalah perilaku nekat menghabisi nyawa teman bermain.

Bullying verbal biasanya tak terlihat, tetapi mematikan, karena tidak menimbulkan efek fisik seperti memar. Kendati demikian bullying secara verbal akan berdampak secara emosional, dia akan tersimpan di dalam hati si korban bully.

Berdasarkan sejumlah penelitian, salah satu penyebab terbesar bunuh diri adalah akibat bullying, khususnya yang dilakukan berulang kali. Jadi efek psikologisnya banyak sekali. Korban bisa menyakiti dirinya sendiri karena menganggap dirinya tidak ada harganya lagi. Hingga upaya balas dendam.

"Untuk mencegah hal terburuk terjadi. Peran orangtua berupa memberikan bentuk perhatian yang penuh kepada anak sangat dibutuhkan dalam kasus semacam ini. Sedapat mungkin luangkan waktu untuk berbicara dan berbagi bersama anak," kata psikolog IAIN Raden Intan LampungRetno Riani, MPSi, Sabtu (18/2/2017).

Meski di sekolah terdapat guru yang bisa memperhatikan anak, tentu ini tidak maksimal. Satu guru jelas akan membagi perhatiannya ke banyak anak. Sehingga ada baiknya, setiap lepas pulang sekolah dekatkan diri ke anak gali informasi apa yang dialami seharian di sekolah.

Kembali ke kepribadian anak, lanujut dia, membully secara verbal bagi seseorang tentu tidak akan bermasalah. Lain halnya jika seseorang memiliki tingkat agresifitas tinggi yang terpendam. Kekerasan kata dan fisik akan memiliki dampak yang amat buruk.

"Diamnya korban bukan berarti dia lemah, justru biasany ia sedang menyusun rencana," papar Retno.

Oleh karena itu, bangunlah suasana demokratis di lingkungan keluarga. Buat senyaman mungkin hubungan antar anggota.

"Biasakan anak bercerita, mengungkapkan apa yang ia rasa dan hadapi. Dengan demikian beban yang ia pikul sedapat mungkin bisa terbagi, dan jika masalah yang dihadapi cukup berat orangtua bisa membangun jalan keluar yang positif," saran dia.
 

Alhasil jika ia harus berhadapan dengan kondisi tidak mengenakkan, anak mampu membuat pertahanan diri yang kuat. "Ah cuma bercanda aja. Mungkin dia lagi kesel".Jadi tidak dicerna begitu saja sebagai upaya menjatuhkan, justru anak mampu melawan secara sehat dengan memperbaiki diri, intropeksi, atau lebih selektif memilih kawan.

Penulis: heru prasetyo
Editor: soni
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help