TribunLampung/

Jumadi: Petani Boleh dan Bisa Kaya

Melalui jatuh-bangun berkali-kali, Jumadi baru bisa mengenyam hasil kerja kerasnya selama ini.

Jumadi: Petani Boleh dan Bisa Kaya
Tribunlampung/Andre
Jumadi 

Laporan Reporter Tribun Lampung Andre

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, PRINGSEWU - Seorang perani ditolak bank saat berniat meminjam dana Rp 500 ribu untuk modal penanaman. Terpaksa dia meminjam uang yang sangat dibutuhkannya itu kepada seorang lintah darat dengan bunga 10 persen per bulan. Kini berubah menjadi petani sukses dengan ketekunannya.

"Petani tidak selalu berkonotasi dengan kemiskinan. Petani 'boleh' dan bisa kaya. Syaratnya, mau bekerja keras, pandai memanfaatkan setiap peluang usaha, dan berani mencoba. Mencoba dalam usaha tani bukan berarti tanpa perhitungan, tetapi justru dengan perhitungan yang matang," ujar Jumadi saat dihubungi Tribun via telepon, Sabtu (11/3).

Jumadi seorang pria berusia 48 tahun, warga Desa Margosari, Kecamatan Metrokibang, Kabupaten Lampung Timur.

Ia mengawali usaha taninya dengan lahan 0,75 hektar pada 1991. Dalam waktu kurang dari 26 tahun, ayah satu anak ini telah memiliki 38,7 hektar lahan kering yang tersebar di dua kabupaten, Lampung Timur dan Lampung Selatan, Bandar Lampung, Gedung Tataan.

”Saya tidak alergi dengan teknologi pertanian baru. Setiap kali ada benih varietas baru, saya rela mengorbankan dua hektar untuk lahan uji coba. Kalau hasilnya bagus, semua lahan saya pertaruhkan,”  kata Jumadi.

Keberhasilannya meniti karir  sebagai petani tentu tidak semudah kita membalikkan telapak tangan. Melalui jatuh-bangun berkali-kali, Jumadi baru bisa mengenyam hasil kerja kerasnya selama ini. Kesulitan yang dihadapinya sebenarnya khas kesulitan nyaris setiap petani kecil. Misalnya, dia sulit mengakses permodalan, gagal panen, tanamannya terserang hama, dan jatuhnya harga komoditas pertanian di pasar.

Juga pernah berhektar-hektar tanaman jagung di arealnya terserang ulat penggerek batang dan tongkol. Akibatnya, Jumadi hanya mendapat hasil sekitar 20 persen. Pernah pula ketika panen bagus, tetapi pada waktu bersamaan harga komoditas pertanian mendadak ”jatuh”. Tidak ada pilihan baginya, selain harus menerima kerugian. Namun, dengan berjalannya waktu, semua rintangan itu mampu dilalui dengan kepercayaan diri dan sikap tidak mudah patah arang.

Menghitung penghasilannya, dengan luas lahan pertanian 38,7 hektar, pendapatannya  tentu tidak kecil. Tanaman jagung menjadi pendapatan utama.

Bukan hanya uang yang didapat dari hasil kerja kerasnya. Di lingkungannya, dia telah tampil menjadi sosok ”panutan” bagi petani dalam urusan mengadopsi teknologi pertanian. Berbagai uji coba penanaman benih jagung varietas baru, pola pertanaman, pemupukan, hingga proses pasca panen kerap dilakukan di lahan miliknya.

Halaman
12
Editor: Reny Fitriani
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help