Home »

News

» Jakarta

Sidang Kasus Ahok

Ahli Agama PBNU: Kata Aulia Bermakna Teman Setia

Kata aulia itu teman setia, kecuali terjemahan Kementerian Agama yang lama dan sudah direvisi

Ahli Agama PBNU: Kata Aulia Bermakna Teman Setia
Warta Kota/Faizal Rapsanjani
Ahok 

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID-Ahli agama Islam Kiai Haji Ahmad Ishomuddin memberi kesaksian dalam sidang lanjutan kasus dugaan penistaan agama dengan terdakwa Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok di Gedung Kementerian Pertanian, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Selasa (21/3/2017).

Dalam kesaksiannya, Kiai Ahmad yang juga Rais Syuriah PBNU(Pengurus Besar Nahdlatul Ulama) Jakarta menerangkan bahwa kata aulia dalam surat Al Maidah bermakna teman setia.

Kiai Ahmad mengatakan, kehadirannya di persidangan ke-15 kasus dugaan penistaan agama itu sebagai ahli independen.

Dia menerangkan, berdasarkan tafsir baru Kementerian Agama, kata aulia dalam Surat Al-Maidah Ayat 51 itu berarti teman setia.

"Saya pembantu Rais Aam (PBNU), tapi saya tidak mewakili NU. Saya di sini atas nama pribadi. Kata aulia itu teman setia, kecuali terjemahan Kementerian Agama yang lama dan sudah direvisi (arti aulia pemimpin)," ujar Ahmad di hadapan majelis hakim.

Menurut dosen Fakultas Syari'ah IAIN Raden Intan Lampung itu, tidak masalah bila masih ada yang mengartikan kata aulia sebagai pemimpin.

Hanya saja, dia tetap mengartikan kata arti aulia sekarang ini sebagai teman dekat.

"Ya silakan, tetapi dalam riset saya terhadap sekitar 30 kitab tafsir, saya bawa sekitar 111 halaman dari puluhan kitab tafsir tidak ada satu pun saya mendapati (yang) bermakna pemimpin," jelas Ahmad.

Dia menerangkan, kata aulia itu kata yang musytarak, memiliki banyak sekali makna yang mana ahli tafsir memilih satu di antara makna tersebut.

Selain makna aulia yang bisa berarti teman setia atau pemimpin, konteks orang beriman dalam Surat Al-Maidah ayat 51 juga dapat diartikan berbeda.

Mayoritas penafsir Al-Quran, kata dia, menyebutkan orang beriman sebagaimana arti sebenarnya.

Tetapi, sebagian kecil ada yang menafsirkan orang beriman sebagai orang munafik yang bertindak seakan-akan sebagai orang beriman.

Ahmad menambahkan, konteks Surat Al-Maidah ayat 51 pada masanya itu mengenai pengkhianatan yang terjadi pada masa peperangan zaman dulu.

Terlepas dari soal Surat Al-Maidah, dia melihat petikan ayat tersebut tidak tepat digunakan dalam Pilkada.

"Ayat yang cocok dan lebih tepat untuk diterapkan dalam Pilkada itu yang berbunyi, hendaklah kamu berlomba-lomba berbuat baik, dengan hal baik yang dimaksud mengacu pada program kerja yang ditawarkan," kata Ahmad.

Editor: taryono
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help