TribunLampung/

Anak Perempuan Suka Manjat dan Main Pistol, Kapan Ibu Merasa Khawatir?

Penelitian Golombok (2009) mengungkapkan, perilaku bermain boneka pada perempuan dan bermain mobil pada anak laki-laki meningkat pada masa usia prasek

Anak Perempuan Suka Manjat dan Main Pistol, Kapan Ibu Merasa Khawatir?
shutterstock
Ilustrasi 

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID - “Adek, kan, perempuan, kok, manjat-manjat dan main pistol?” kata seorang ibu pada anaknya. Ibu yang lain berujar, “Ih, masak anak laki-laki senang main boneka!”

Ya, kita mungkin sering mendengar ucapan-ucapan seperti itu. Banyak orangtua khawatir ketika mendapati anak laki-laki main boneka atau sebaliknya, anak perempuan suka memanjat pohon.

Menurut Wara Rahmawati, M.Psi, Psikolog., psikolog di Lembaga Psikologi Jagaddhita, tidak mengherankan ada pro-kontra mengenai kategorisasi alat bermain tersebut karena memang ada stereotip dalam masyarakat bahwa laki-laki identik dengan mobil serta boneka untuk anak perempuan.

Stereotip Alat Bermain

“Stereotip tersebut bisa disebut sebagai stereotip gender, yang berkaitan dengan keyakinan yang luas tentang perilaku yang tepat bagi laki-laki dan perempuan,”papar psikolog dari Poliklinik Psikologi dan Kesehatan Mental Atlet Rumah Sakit Olahraga Nasional ini.

Stereotip tersebut yang memunculkan kesepakatan tidak tertulis mengenai kategorisasi alat bermain anak sesuai gendernya. Stereotip ini tidaklah selamanya buruk, tapi juga tidak semuanya baik.

Penelitian Golombok (2009) mengungkapkan, perilaku bermain boneka pada perempuan dan bermain mobil pada anak laki-laki meningkat pada masa usia prasekolah dan akan terus dilakukan hingga usia 8 tahun. Ini karena secara naluriah anak-anak akan mencari kenyamanan dengan anak lain yang mempunyai kesamaan lebih banyak.

Plus Minus Gender pada Permainan

Anak usia tersebut juga cenderung berkelompok sesuai gendernya. Membedakan mainan berdasarkan gender bisa menjadi salah satu media belajar anak untuk mengenal diri dan perbedaan dengan lawan jenis.

“Namun di sisi lain, hal tersebut membuat anak terpaku hanya pada satu pilihan saja, sehingga pandangannya menjadi kurang luas. Ia akan mengotakkan diri dalam bergaul, malu ketika harus bermain dengan lawan jenis, yang justru membuat kemampuan sosial mereka kurang berkembang dengan optimal.”

Halaman
123
Editor: Reny Fitriani
Sumber: Tabloid Nova
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help