TribunLampung/

Jatuhkan Hukuman Mati: Tubuh Hakim Gemetar, Terdakwa Malah Tepuk Tangan

Selama 20 tahun lebih menjadi hakim, ini pengalaman pertama saya. Putusan ini benar-benar sudah dipertimbangkan.

Jatuhkan Hukuman Mati: Tubuh Hakim Gemetar, Terdakwa Malah Tepuk Tangan
Tribunlampung/Romi
putri almarhum pansor 

BANDAR LAMPUNG, TRIBUN - Tak mudah menjatuhkan hukuman mati terhadap terdakwa. Begitu pula yang dialami majelis hakim Pengadilan Negeri Tanjungkarang yang menyidangkan Medi Andika dalam kasus pembunuhan berencana terhadap anggota DPRD Bandar Lampung M Pansor.

Hakim Ketua Minanoer Rachman bahkan sampai gemetar saat memasuki ruang sidang yang beragendakan pembacaan putusan Medi, Senin (17/4) lalu.

"Jujur, tubuh saya gemetar ketika hendak membacakan putusan vonis pidana hukuman mati itu," kata Minanoer saat diwawancara Tribun di kantornya, Rabu (19/4).

Mantan Ketua Pengadilan Negeri Tuban, Jawa Timur, itu mengaku baru kali ini menjatuhkan vonis mati terhadap terdakwa.

"Selama 20 tahun lebih menjadi hakim, ini pengalaman pertama saya," ujarnya.

Meski begitu, Minanoer secara tegas menyatakan vonis mati terhadap Medi merupakan hasil dari fakta-fakta yang terungkap di persidangan.

Sekaligus hasil musyawarah majelis hakim, bersama hakim anggota Yus Enidar dan Mansyur, sebelum menjatuhi hukuman.

"Putusan ini benar-benar sudah dipertimbangkan," ujar Wakil Ketua PN Tanjungkarang tersebut.

Minanoer pun mengisahkan beberapa momen di balik musyawarah majelis hakim. Tiga hari sebelum sidang, atau Jumat (14/7), Minanoer bersama Yus Enidar dan Mansyur sudah memberi sinyal untuk menjatuhkan vonis mati terhadap Medi.

Namun, sebelum membulatkan keputusan itu, Minanoer mengajak Yus Enidar dan Mansyur untuk meminta petunjuk dari Sang Maha Kuasa.

Halaman
1234
Penulis: Romi Rinando
Editor: Heribertus Sulis
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help