TribunLampung/

Sejak Usia 7 Tahun, Yusuf Dikerangkeng di Kamar

Anaknya sengaja dikerangkeng di dalam kamar dengan teralis besi yang dilengkapi dengan tiga slot kunci dan satu gembok sejak usia 7 tahun.

Sejak Usia 7 Tahun, Yusuf Dikerangkeng di Kamar
Yusuf (15) sejak usia tujuh tahun terpaksa dikerangkeng karena kerap mengamuk dan melukai orang lain. (KOMPAS.com/Putra Prima Perdana) 

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, BANDUNG - Di dalam kamar kecil berukuran sekitar 2 X 1,5 meter berpintu teralis warna putih agak berkarat, seorang anak bernama Yusuf (15) duduk bersila dengan tatapan terfokus ke arah televisi yang menyala. 

Sesekali, mata Yusuf melirik ke arah orang-orang di luar teralis lalu kembali lagi menatap televisi yang berada di luar kamar.

Lima tahun sudah Yusuf menjalani kehidupannya di dalam kerangkeng yang sengaja dibuat untuk menahannya. Yusuf dikerangkeung di dalam rumahnya, di Jalan Blok Pareman RT 01 RW 04, Kelurahan Mekarwangi, Kecamatan Bojongloakidul, Kota Bandung.

"Ya (dikerangkeng) di dalam kamar biar aman. Biar tidak mengganggu," ujar Ratnasari (38) ibu kandung Yusuf, saat ditemui di rumahnya, Kamis (11/5/2017).

Ratna menjelaskan, anaknya sengaja dikerangkeng di dalam kamar dengan teralis besi yang dilengkapi dengan tiga slot kunci dan satu gembok sejak usia 7 tahun. Ia melakukannya karena sang anak seringkali menjadi beringas tanpa sebab.

"Dikasih pintu (teralis) gini karena kami sayang. Daripada mencelakakan orang. Yusuf bisa tiba-tiba ngejenggut (menjambak),ngorowot (mencakar), gigit, sampai nendang orang. Enggak ada sebabnya, tiba-tiba saja," aku Ratna.   

Kompas.com sempat menyaksikan ketika Yusuf berubah menjadi beringas. Tiba-tiba saja tangannya dengan cepat menyelusup ke sela-sela teralis mencoba menggapai ibunya saat diwawancara.

Tidak ada teriakan atau apapun. Gerakan Yusuf seperti sebuah spontanitas alias reflek.  "Kalau sudah kena ditarik itu kencang sekali. Baru bisa lepas kalau Yusuf dipukul sampai nangis," ucapnya. 

Tidak hanya menggigit, menjambak, dan mencakar saja. Di dalam teralis pun Yusuf terkadang sering menendang teralis besi hingga kakinya terluka. Sudah banyak orang yang terluka oleh Yusuf. Korbannya bisa keluarga, orang yang dikenal, bahkan yang tidak dikenal sekalipun.

"Tapi kalau diajak komunikasi nyambung. Nyanyian cepot satu kaset DVD juga hapal," tuturnya.

Ratna dan suaminya Aat Nurjaman, ikhlas jika anaknya harus menjalani hidup di balik jeruji besi di dalam rumahnya. Keikhlasan tersebut diamini pula oleh Yusuf yang kerap kali enggan ketika ditawari keluar dari dalam kamar.

"Yusuf juga sadar diri. Dia pernah bilang enggak mau keluar dari kamar. Kata dia takut nyelakain orang. Ya, sebenernya mah enggak mau kaya gini. Tapi mau bagaimana lagi," tutupnya. 

Kontributor Bandung, Putra Prima Perdana

Tags
Bandung
Editor: Heribertus Sulis
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help