TribunLampung/

Ustaz Fikri Haikal MZ Beri Tausiyah Ke Warga Lampura

Ustaz Fikri Haikal dalam tausiyahnya mengatakan, falsafah hidup sudah tertuang dalam pancasila.

Ustaz Fikri Haikal MZ Beri Tausiyah Ke Warga Lampura
Tribunlampung/Anung
Ustaz Fikri Haikal MZ Beri Tausiyah Ke Warga Lampura, Selasa (18/7/2017). 

Laporan Reporter Tribun Lampung Anung Bayuardi

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, KOTABUMI - Pemerintah Kabupaten Lampung Utara menggelar tablik akbar, di Islamik Center Kotabumi, Selasa (18/7).

‎Acara diawali pembacaan ayat suci Alquran oleh Muhamad Asyakuri. Ustaz Fikri Haikal MZ, akan memberikan tausiyah kepada sekitar 800 orang, dari majelis taklim dan pengajian se Lampung Utara. Kegiatan dihadiri oleh Sekretaris Kabupaten Samsir, wakapolres Lampura Kompol Suparman, Dandim 0412 Lampura Letkol Inf. R.D. Bahtiar Kurniawan, anggota DPRD Lampura Sandy Juwita,

Agung Ilmu Mangkunegara, Bupati Lampung Utara kegiatan tablik ini dalam rangka memperingati Hari ulang tahun ke 71. Dirinya bersama dengan lainnya akan memberikan pelayanan yang optimal kepada masyarakat. "Sudah 71 tahun Lampura berdiri. Berikan yang terbaik bagi Lampung Utara," katanya.

Ustaz Fikri Haikal MZ beri tausiyah
Ustaz Fikri Haikal MZ beri tausiyah (Tribunlampung/Anung)

Satukan visi, misi, tekad‎ untuk majukan Lampura. Mudah-mudahan siraman Ilmu dapat menjadikan kita sejuk, Lampura menjadi damai, aman. Menambah ilmu bagi warga, merupakan tujuan lainnya.

Ustaz Fikri Haikal dalam tausiyahnya mengatakan, falsafah hidup sudah tertuang dalam pancasila. Tidak ada paksaan dalam memeluk ajaran Islam. Masuknya budaya lain ke Islam, salah satunya menjadi matreliastis.

Penanaman iman dan pemantapan akidah, jangan dilupakan dalam mendidik anak.‎ Ketuhanan kepada tuhan yang maha esa, esensinya meningkatkan keimanan kepada Allah SWT.

Kemanusiaan yang adil dan beradab, penjabarannya, nilai hukum yang harus ditegakkan itulah nilai beradab. "Hukum tidak pandang bulu, maka harus ditegakkan," katanya.

Persatuan Indonesia, cinta kepada tanah air, rasa bangga terhadap daerah. Kemudian, nilai-nilai musyawarah, gotong royong kembali dibudayakan, esensi dari sila kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat dalam permusyawaratan dan perwakilan.

Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, pemerataan pembangunan, agar masyarakat dapat menikmati pembangunan dengan meningkatnya kesejahteraan ekonomi.‎ (ang)

Penulis: anung bayuardi
Editor: Reny Fitriani
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help