TribunLampung/

Upaya Penyelundupan 400 Kg Daging Celeng Digagalkan di Pelabuhan Bakauheni

Daging celeng tersebut diamankan saat hendak naik kapal di areal pakir Dermaga 3 Pelabuhan Bakauheni, Kamis (20/7/2017) dini hari.

Upaya Penyelundupan 400 Kg Daging Celeng Digagalkan di Pelabuhan Bakauheni
Ist
Ilustrasi daging celeng. 

Laporan Reporter Tribun Lampung Dedi Sutomo

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, KALIANDA – Balai Karantina Pertanian (BKP) Kelas I Bandar Lampung Wilker Bakauheni mengamankan sekitar 400 kilogram (kg) daging celeng (babi hutan), yang hendak dikirim ke wilayah Tangerang, Banten.

Daging celeng tersebut diangkut menggunakan kendaraan minibus bernomor polisi BE 2054 BL.

Daging celeng tersebut diamankan saat hendak naik kapal di areal pakir Dermaga 3 Pelabuhan Bakauheni, Kamis (20/7/2017) dini hari.

Penanggung Jawab BKP Wilker Bakauheni, Azhar mengatakan, pemilik daging celeng tersebut mengaku memanfaatkan celah waktu tententu, untuk bisa melalui pos pemeriksaan di Seaport Interdiction Pelabuhan Bakauheni.

Pemilik daging celeng bernama Winardi itu mengaku mengangkut daging celeng dari Kota Metro.

Ia mendapatkan daging celeng tersebut dari wilayah Kayu Agung, Sumatera Selatan.

“Ia mengaku sebelumnya sudah pernah mengirim dan lolos. Dan untuk pengiriman kali ini, berhasil kami amankan,” ujar Azhar.

Daging celeng yang dikemas dalam beberapa karung tersebut tidak dilengkapi dokumen apapun.

Penangkapan itu berawal dari kecurigaan petugas karantina, yang sedang patroli di kawasan pelabuhan.

Petugas melihat mobil minibus pribadi yang tidak bermuatan penumpang.

Tetapi, mobil tersebut terlihat memiliki beban berat.

“Setelah diperiksa oleh petugas, didapati di dalamnya daging celeng yang dikemas dalam beberapa karung. Pemilik tidak dapat menunjukkan dokumen resmi yang dipersyaratkan. Daging celeng yang hendak dibawa ke Tangerang itu kami amankan,” ungkap Azhar.

Menurut dirinya, meski bukan termasuk hewan yang dilindungi, pengiriman komoditas daging celeng tetap harus dilengkapi dokumen resmi yang dipersyaratkan dalam UU Nomor 16 Tahun 1992 tentang Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan.

Penulis: Dedi Sutomo
Editor: Ridwan Hardiansyah
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help