TribunLampung/
Home »

News

» Sains

Ambri Lawu Memberi Bukti Tanpa Ginjal Bukan Akhir dari Hidup

Tahun 2009, hidup Ambri Lawu berubah drastis. Dia yang semula aktif, gemar berpetualang, menemui keputusasaan karena didiagnosis gagal ginjal.

Ambri Lawu Memberi Bukti Tanpa Ginjal Bukan Akhir dari Hidup
(Baxter)
Ambri Lawu 

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID - Tahun 2009, hidup Ambri Lawu berubah drastis. Dia yang semula aktif, gemar berpetualang, menemui keputusasaan karena didiagnosis gagal ginjal.

Sehari-hari, ia merasakan lemas, pusing, dan mual. Tiga kali seminggu, dia harus ke rumah sakit untuk cuci darah.

"Setiap kali sehabis cuci darah, saya drop. Paha saya memar karena suntikan. Pergi ke rumah sakit normal, pulang jalan pincang," katanya.

Tak adanya program asuransi Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) membuat uang dan harta benda Ambri ludes untuk pembiayaan pengobatan.

"Barang-barang banyak yang saya jual. Mobil saya jual. Pernah suatu saat, uang saya benar-benar tinggal goceng," ceritanya.

Namun ketika ditemui Kompas.com, Rabu (16/8/2017), Ambri tampak bugar. Kini ia bisa mengatakan bahwa gagal ginjal bukan akhir hidup.

Saat ditanya apa yang dikerjakannya sekarang, ia menjawab dengan mantap, "tetap melanjutkan hidup dan saya sekarang berwirausaha."

Menemukan Pengobatan yang Tepat

Salah satu faktor yang membuat Ambri kembali memiliki semangat hidup adalah karena menemukan pengobatan yang pas.

Mencari informasi di internet, ia menemukan Continuous Ambulatory Peritoneal Dialysis (CAPD) atau bisa disebut cuci darah mandiri.

Halaman
123
Tags
BPJS
Editor: soni
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help