TribunLampung/

Awal Geluti Bisnis 3-6 Gamis Tidak Habis Terjual dalam Sehari

Lalu muncul ketertarikannya berbisnis gamis sekaligus cadar. Dengan modal Rp 700 ribu yang berasal dari menyisihkan uang belanja ia pun memulai bisnis

Awal Geluti Bisnis 3-6 Gamis Tidak Habis Terjual dalam Sehari

Laporan Reporter Tribun Lampung Jelita Kinanti

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, BANDAR LAMPUNG - Semenjak memutuskan untuk berhijrah, Ridahasih bergabung dengan komunitas akhwat yang rata-rata bercadar. Lalu muncul ketertarikannya berbisnis gamis sekaligus cadar. Dengan modal Rp 700 ribu yang berasal dari menyisihkan uang belanja ia pun memulai bisnisnya di tahun 2015.

Diawal berbisnis, ia menjadi reseller gamis ikhwan dan akhwat serta cadar dari beberapa produk. Gamis dan cadar itu ia jual secara online, dirumahnya, dan juga ia jual ke sekolah-sekolah. Bahkan saat ia kerumah temannya juga ia bawa karena siapa tahu disana ada yang membelinya. Adapun harga yang ia terapkan untuk gamis adalah Rp 185 ribu - Rp1,5 juta dan cadar Rp 30 ribu - Rp165 ribu.

"Di awal berbisnis sangat sulit. Bahkan 3-6 gamis tidak habis terjual dalam satu hari. Tapi saya terus mendorong diri saya agar tidak menyerah. Karena tidak ada bisnis yang bisa langsung sukses saat baru memulai. Saya pun terus berjualan tanpa kenal lelah dan akhirnya pada tahun 2016 penjualan saya mulai naik," kata dia.

Setelah penjualan naik, ia memutuskan untuk membuka toko dengan nama Galeri Fijannah. Disini customer bisa melihat sekaligus membeli semua gamis dan cadar yang ia jual. Lalu tidak lama setelah galeri itu dibuka ia memutuskan menjual gamis dan cadar yang ia desain dan produksi sendiri. Alasannya, karena ia ingin membuka lapangan pekerjaan bagi keluarganya yang memang penjahit, dan ingin memiliki brand sendiri yang ia beri nama izazi zakirah.

Saat ia coba untuk menjual gamis dan cadarnya, respon masyarakat ternyata bagus. Banyak yang menyukai gamis dan cadarnya. Penjualannya pun terus meningkat. Kini penjualannya sudah mencapai hingga keluar Bandar Lampung seperti Pringsewu, Tataan, Tulangbawang, Gorontalo, Papua, Palembang, Cirebon, Jakarta, Lubuk Linggau, Bogor, dan Samarinda.

Penulis: Jelita Dini Kinanti
Editor: soni
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help