TribunLampung/

Pelajari, Begini Modus Tawaran Pil Berbahaya Kepada Anak Anak

Kepada korban ditawarkan pil secara gratis. Obat untuk menghilangkan pusing atau stres

Pelajari, Begini Modus Tawaran Pil Berbahaya Kepada Anak Anak
YouTube
Pil PCC 

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, JAKARTA - Kepala Pusat Penyidikan Obat dan Makanan BPOM RI Hendri Siswadi menjelaskan awal mula terjadinya kasus peredaran tablet PCC yang membuat 1 orang tewas dan 42 orang lainnya dirawat di rumah sakit di Kendari, Sulawesi Tenggara.

Ia menyebut ada orang yang mendatangi para korban dan menawarkan mereka PCC tanpa harus membayar.

"Ada orang dewasa mendatangi beberapa korban dan mengiming-imingi secara gratis," ujar Hendri, saat ditemui di Gedung C, Kantor BPOM, Jalan Percetakan Negara, Jakarta Pusat, Senin (18/9/2017).

Kepada korban yang masih di bawah umur, orang yang menyebarkan tablet PCC mengatakan obat yang diberikannya bisa menghilangkan rasa pusing jika dikonsumsi tiga kali.

 
"(Orang itu mengatakan pada para korban) 'Kalau ada yang pusing dan stres, ini obatnya, makan tiga kali'," jelasnya.

Sementara kepada korban remaja yang usia 19 tahun, orang penyebar tablet PCC menebut obat yang dibawanya sebagai obat penambah tenaga atau energi.

"Kalau (untuk) anak yang umur 19 tahun, (orang itu) menyebutkan (PCC) ini bisa digunakan untuk menambah energi," katanya.

Dalam kesempatan yang sama, Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI Penny K Lukito mengatakan adanya unsur kesengajaan dalam pemberian tablet PCC tersebut agar remaja penerus bangsa 'rusak' secara mental dan bertindak agresif.

"Jadi ini hasil wawancara kami dengan korban di Kendari, itu kami menyimpulkan ada unsur kesengajaan," kata Penny.

Pernyataan tersebut ia sampaikan untuk menanggapi perkembangan kasus peredaran PCC yang mengandung tiga kandungan, yakni Parasetamol, Carisoprodol, dan Cafein.

Tablet yang dikonsumsi sejumlah remaja di Kendari itu menewaskan 1 orang dan membuat 42 orang lainnya dirawat di rumah sakit.

PCC merupakan produk ilegal dan tidak pernah terdaftar sebagai obat di Badan POM. (*)

 

Editor: Safruddin
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help