TribunLampung/

Generasi Milenial Tak Punya Keinginan Beli Rumah, Ini Dampaknya ke Depan

Generasi Milenial Tak Punya Keinginan Beli Rumah, Ini Dampaknya ke Depan

Generasi Milenial Tak Punya Keinginan Beli Rumah, Ini Dampaknya ke Depan
CNN.com
Pasar properti Hong Kong telah menjadi yang paling mahal di dunia, dengan harga rata-rata perumahan mencapai 4.024.000 dolar Hong Kong, atau Rp 6,5 miliar. 

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID - "Bahaya, jika generasi milenial tak punya keinginan beli rumah".

Country Manager Rumah123 Ignatius Untung mengatakan hal itu kepada KompasProperti, pekan lalu.

Baca: VIDEO - Bobotoh Mengamuk Buntut Kekalahan Persib Bandung, Ini Pelampiasannya

Kata "bahaya" mendapat tekanan serius dari Untung karena dalam waktu beberapa tahun ke depan, atau lima tahun lagi, generasi baby boomers yang notabene merupakan penghasil generasi milenial, sudah tidak bisa membeli rumah.

Generasi X, dan setelahnya, termasuk generasi milenial, seharusnya menggantikan ibu-bapaknya dalam pembelian rumah, baik tapak maupun apartemen yang tersedia di pasar.

"Jika mereka cuek, pasar properti akan kelebihan pasokan. Namun, di sisi lain, permintaan justru mengalami penurunan. Ini situasi yang membahayakan jika supply melebihi demand," tutur Untung.

Ilustrasi.
Gejala oversupply sejatinya sudah terjadi sejak dua tahun terakhir.
Bahkan, hingga kuartal III-2017, Colliers International Indonesia mencatat dari total pasokan apartemen baru sebanyak 15.277 unit, terserap atau terjual 85,6 persen.

Padahal, jumlah pasokan ini jauh lebih rendah ketimbang proyeksi Colliers pada awal tahun sekitar 21.167 unit.

Sementara untuk rumah tapak, BI melaporkan hingga kuartal II-2017, penjualannya tumbuh melambat dibanding triwulan sebelumnya dari 4,16 persen menjadi 3,16 persen.

Baca: Buaya Gendut Masuk Perangkap Warga, Dibelek Isi Bikin Nangis

Perlambatan penjualan residensial, alasan BI, sejalan dengan terbatasnya permintaan akan rumah hunian.

Ilustrasi apartemen
Associate Director Research Colliers Ferry Salanto mengatakan ada dua pasar yang aktif yakni kelas menengah ke bawah yang sensitif terhadap uang muka atau down payment (DP) dan cicilan per bulan.
Halaman
1234
Editor: wakos reza gautama
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help