Akhiri Nikah Siri Selama 25 Tahun, Ijab Kabul Pasangan Ini Penuh Gelak Tawa

Akhiri Nikah Siri Selama 25 Tahun, Ijab Kabul Pasangan Ini Penuh Gelak Tawa

Akhiri Nikah Siri Selama 25 Tahun, Ijab Kabul Pasangan Ini Penuh Gelak Tawa
Tribunnews.com/ Rina Ayu
Prosesi akad nikah Nurdin Basuni (58) dan Mulyanah (38) akhirnya sah menjadi pasangan suami istri, di park and ride, Thamrin 10, MH.Thamrin, Jakarta Pusat, Minggu (31/12/2017). 

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID - Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menggelar kegiatan nikah massal pada malam perayaan tahun baru, Minggu (31/12/2017).

Satu pasangan berbahagia adalah Nurdin Basuni (58) dan Mulyanah (38) yang akhirnya pernikahannya diakui negara.

Keduanya terlihat mengenakan baju adat Betawi berwarna merah saat menjalani prosesi akad nikah.

Prosesi akad nikah yang dihadiri tetangga Nurdin dan Mulyanah penuh gelak tawa.

Nurdin mantap mengucapkan ijab kabul dihadapan penghulu dan sejumlah kerabat yang ikut menyaksikan.

Acara akad nikah juga langsung dihadiri Lurah Menteng, Agus Sulaiman yang bertindak sebagai saksi nikah pasangan yang sudah memiliki 6 orang anak tersebut.

Prosesi akad nikah Nurdin Basuni (58) dan Mulyanah (38) akhirnya sah menjadi pasangan suami istri, di park and ride, Thamrin 10, MH.Thamrin, Jakarta Pusat, Minggu (31/12/2017). (Tribunnews.com/ Rina Ayu)
Prosesi akad nikah Nurdin Basuni (58) dan Mulyanah (38) akhirnya sah menjadi pasangan suami istri, di park and ride, Thamrin 10, MH.Thamrin, Jakarta Pusat, Minggu (31/12/2017). (Tribunnews.com/ Rina Ayu) ()

Setelah berjabat tangan dengan penghulu dan dinyatakan sah, para tetangga, kerabat, sontak bersama-sama mengucapkan rasa syukurnya.

"Alhamdulillah," ungkap para tetangga, tamu, dan keluarga yang hadir di park and ride, Thamrin 10, MH.Thamrin, Jakarta Pusat, Minggu (31/12/2017).

Mulyanah yang ditemui usai melakukan prosesi akad nikah mengungkapkan rasa syukur dan kelegaannya.

Lantaran pernikahannya akhirnya diakui negara setelah menikah siri selama 25 tahun.

"Lega, akhirnya sah juga," singkat Mulyana.

Ia mengaku akan membuatkan keenam orang anaknya akte kelahiran agar bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi dengan mengikuti program kesetaraan, serta anak-anak mereka dijamin oleh program kesehatan pemerintah atau BPJS.

"Mau bikin akte buat semuanya. Biar sekolah bisa dibantu pakai KJP dan BPJS," ujarnya.

Sehari-harinya, Nurdin bekerja serabutan, sedangkan Mulyana hanya berprofesi sebagai buruh cuci.

Penghasilan Nurdin pun tak menentu, sementara Mulyana diupah sebesar Rp 80.000 per bulan. (Tribunnews.com,Rina Ayu)

Editor: taryono
Sumber: TribunStyle.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved