Ini Daftar Bahan Makanan Penyebab Inflasi

Inflasi Kota Bandar Lampung menempati peringkat ke-66 dari 82 kota yang diamati perkembangan harga.

Ini Daftar Bahan Makanan Penyebab Inflasi
tribunlampung
BPS Lampung menggelar rilis inflasi di kantor BPS setempat, Selasa (2/1/2018). 

Laporan Reporter Tribun Lampung Ana Puspita Sari

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, BANDAR LAMPUNG - Desember 2017, Kota Bandar Lampung mengalami inflasi sebesar 0,47 persen. Empat kelompok pengeluaran yang memberikan andil dalam pembentukan inflasi di Kota Bandar Lampung antara lain bahan makanan sebesar 0,34 persen; makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau sebesar 0,05 persen; perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar sebesar 0,05 persen; dan kelompok transport, komunikasi dan jasa keuangan sebesar 0,05 persen.

Baca: Pemerintah Kabupaten Pesawaran Bentuk Tim Pengendalian Inflasi Daerah

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Lampung Yeane Irmaningrum mengatakan, inflasi Kota Bandar Lampung menempati peringkat ke-66 dari 82 kota yang diamati perkembangan harga. Adapun beberapa komoditas yang dominan memberikan andil inflasi antara lain cabai merah, beras, telur ayam ras, mi, upah pembantu rumah tangga, tarip pulsa ponsel, daging ayam ras, cung kediro, nasi dengan lauk dan bahan bakar rumah tangga.

"Andil inflasi sama polanya dengan nasional yaitu bahan makanan sebesar 0,34 persen sementara komoditas dominan andil inflasi cabai merah sebesar 0,16 persen," jelas Yeane saat rilis di kantor BPS Lampung, Selasa (2/1/2018).

Baca: Inflasi Indeks Harga Konsumen di Lampung di Bawah Inflasi Nasional

Di tempat yang sama, Kepala Bidang Statistik Distribusi BPS Lampung Bambang Widjonarko mengatakan, pada Desember 2017 berdasarkan inflasi tahun kalender (point to point) dan inflasi year on year (yoy) adalah sebesar 3,14 persen.

"Sepanjang Januari-Desember 2017 tercatat inflasi sebesar 3,14 persen dengan target awal antara 3-5 persen, artinya upaya TPID cukup berhasil dalam mengendalikam harga. Apalagi di beberapa titik krusial seperti Lebaran, Natal, dan tahun baru, inflasi tetap terkendali," ujarnya.

Beralih ke harga gabah, rata-rata harga gabah di tingkat petani pada bulan Desember 2017 mengalami kenaikan sebesar 5,04 persen dari Rp 5.266,67/kilogram menjadi Rp 5.532,00/kilogram untuk kualitas GKP. Pada kualitas yang sama, harga gabah di tingkat penggilingan juga naik sebesar 5,17 persen dari Rp 5.348,75/kilogram menjadi Rp 5.625,20/kilogram.

Sementara untuk rata-rata harga beras selama Desember 2017 di tingkat penggilingan mengalami kenaikan sebesar 4,08 persen dari Rp 9.620,00/kilogram menjadi Rp 10.012,50/kilogram. Beras kualitas medium naik 1,44 persen dari Rp 9.131,43/kilogram menjadi Rp 9.262,50/kilogram dan beras kualitas asalan juga naik 1,61 persen dari Rp 7.750,00/kilogram menjadi Rp 7.875,00/kilogram. (*) 

Penulis: Ana Puspita Sari
Editor: Daniel Tri Hardanto
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help