Dampak Mengonsumsi Sabu bagi Otak

Kisah artis Jennifer Dunn mewarnai awal tahun baru 2018. Polisi membekuk Jedun, sapaan bekennya, di rumahnya

Dampak Mengonsumsi Sabu bagi Otak
Warta Kota
Artis Jennifer Dunn 

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID - Kisah artis Jennifer Dunn mewarnai awal tahun baru 2018. Polisi membekuk Jedun, sapaan bekennya, di rumahnya di kawasan Mampang Prapatan, Jakarta Selatan, Minggu (31/12/2017) sore. Ia kedapatan memesan narkoba jenis sabu-sabu dari seorang bandar berinisial FS.

Ini bukan pertama kalinya Jennifer Dunn terjerat kasus narkoba. Tahun 2005, ia kedapatan menyimpan ganja. Tahun 2009, Jedun kembali berurusan dengan aparat penegak hukum usai pesta narkoba bareng teman-temannya di tempat kosnya di kawasan Jakarta Selatan. Kala itu, ia kedapatan menyimpan satu paket sabu dan tujuh pil ekstasi.

Di tengah heboh-heboh soal Jedun, sebenarnya bagaimana dampak mengonsumsi sabu bagi otak? Apa yang terjadi pada otak manusia saat mengonsumsi sabu?

Pede Sesaat, Tapi Sulit Kelola Stres

Dokter kesehatan jiwa, dr Andri SpKJ, FAPM, menjelaskan, zat golongan amfetamin atau metamfetamin sabu dan ekstasi bisa menyebabkan lonjakan hormon serotonin dan dopamin berkali-kali lipat dari biasanya.

"Hal ini yang membuat pengguna stimulan merasakan rasa nyaman dan gembira luar biasa," ujar Andri.

Orang yang mengonsumsi sabu akan merasa lebih percaya diri. Namun, efek menyenangkan tersebut hanya terjadi sesaat.

Efek yang sebenarnya terjadi adalah kerusakan kesimbangan sistem pada otak. Mereka yang mengonsumsi sabu bisa menjadi lebih sulit mengelola stres.

Gangguan Kecemasan, Rentan Depresi

Andri mengungkapkan, penggunaan sabu dalam jangka panjang bisa menimbulkan efek gangguan kecemasan di kemudian hari. Efek tersebut bahkan muncul setelah sudah tak lagi mengonsumsi sabu.

Andri beberapa kali mendapati pasien dengan gangguan kecemasan yang ternyata sebelumnya memiliki riwayat mengonsumsi sabu maupun ekstasi.

Gejala kecemasan bisa berupa jantung berdebar tiba-tiba, sesak napas, hingga perasaan melayang. Hal itu terjadi karena sudah rusaknya keseimbangan sistem hormon serotonin dan dopamin pada otak.

Efek lain juga bisa muncul, seperti gejala psikotik, seperti ide-ide paranoid. Mereka bahkan menjadi rentan depresi.

(Dian Maharani/Akhdi Martin Pratama/Kompas.com)

Editor: yoso
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help