Pedagang Diduga Kena Pungli Rp 40 Juta, Anggota DPRD Lampung Tengah Akan Panggil Kepala Kampung

Anggota DPRD Lampung Tengah menyesalkan adanya dugaan penarikan uang kepada para pedagang

Pedagang Diduga Kena Pungli Rp 40 Juta, Anggota DPRD Lampung Tengah Akan Panggil Kepala Kampung
Internet
Ilustrasi Pungli 

LAPORAN REPORTER TRIBUN LAMPUNG SYAMSIR ALAM

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, GUNUNG SUGIH - Anggota DPRD Lampung Tengah menyesalkan adanya dugaan penarikan uang kepada para pedagang di Pasar Kampung Bina Karya Utama, Kecamatan Putra Rumbia, Kabupaten Lampung Tengah. Penarikan uang ini diduga dilakukan oleh Kepala Kampung Bina Karya Utama, Maryono.

Anggota Komisi IV DPRD Lamteng Made Arka Wijaya menyatakan, penarikan uang kepada para pedagang di pasar tersebut tidak sesuai prosedur. Besaran uang yang diduga ditarik oleh Kakam Bina Karya Utama, Maryono, mencapai Rp 35 juta-40 juta per pedagang.

"Tentu saja ditolak para pedagang. Padahal, pembangunan pasar itu kan bersumber dari DAK (dana alokasi khusus) pemerintah pusat. Tahun lalu, ada empat pasar kampung di Lamteng yang dibangun," ujar Made di Gedung DPRD Lamteng, Jumat (5/1/2018).

Made mengungkapkan, pungutan liar yang diduga dilakukan kakam bertujuan untuk pembangunan balai kampung setempat. Ia pun menilai hal itu salah kaprah.

"Kalau untuk pembangunan balai kampung, kan ada kementeriannya sendiri. Tidak ada urusannya dengan pasar. Kalau pasar kan kementeriannya itu Kementerian Perindustrian dan Perdagangan. Kami akan mintai keterangan terkait pungutan itu," kata Made.

Seorang pedagang yang enggan diungkap namanya menjelaskan, penarikan uang yang dilakukan sang kakam tanpa kesepakatan dengan mereka. Ia menyatakan keberatan dan enggan membayar pungutan yang diminta.

Selain itu, beber dia, berdasarkan informasi yang didapat para pedagang, kakam tidak mendahulukan pedagang lama yang sudah berjualan di sana sebelumnya. "Ada juga pedagang baru yang diutamakan daripada pedagang lama," ujarnya.

Total los dan hamparan yang dibangun di Pasar Kampung Bina Karya Utama sebanyak 24 unit. Saat ini, tempat berdagang tersebut sudah terisi penuh.

Akui Penarikan, Sebut Hanya Salah Paham

Kepala Kampung Bina Karya Utama, Maryono, saat dikonfirmasi menyatakan telah terjadi kesalahpahaman dengan para pedagang terkait pungutan uang tersebut. Ia pun memastikan masalah itu sudah diselesaikan melalui musyawarah.

"Itu sudah kami clear-kan semua. Hanya salah paham. Masalahnya sudah kami selesaikan dan kami duduk bersama mencari solusinya. Sudah tidak ada masalah lagi," kata Maryono saat dihubungi melalui ponsel, Jumat (5/1/2018).

Maryono membenarkan penarikan uang itu bertujuan untuk pembangunan balai kampung. "Namun, karena dianggap salah, akhirnya itu dihentikan," ujarnya.

Penulis: syamsiralam
Editor: yoso
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help