Mitos Obat Kuat Ancam Populasi Harimau Sumatera

Jumlah ini terancam menurun dengan berbagai alasan, mulai dari konflik dengan manusia, perburuan liar, alih guna lahan, dan deforestasi.

Mitos Obat Kuat Ancam Populasi Harimau Sumatera
BBC
Harimau sumatera 

Laporan Reporter Tribun Lampung Romi Rinando

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, BANDAR LAMPUNG – Konflik antara masyarakat dan harimau sumatera di kawasan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS) cukup sering terjadi. Kondisi itu tentu mengancam populasi hewan bernama latin panthera tigris sumatera ini.

Berdasarkan analisis populasi terbaru Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan tahun 2017, populasi harimau sumatera diperkirakan kurang dari 700 ekor. 

Jumlah ini terancam menurun dengan berbagai alasan, mulai dari konflik dengan manusia, perburuan liar, alih guna lahan, dan deforestasi.

Baca: Kaus Lacoste dengan Logo Harimau Sumatera Dijual Terbatas

Baca: Pasca Diserbu, Polsek Jabung Dijaga Ketat

Iwan Setiawan, koordinator advokasi harimau sumatera Sumatran Tiger Project GEF-UNDP, dalam rilisnya mengatakan pentingnya memberikan pemahaman dan advokasi kepada masyarakat, insan pers, dan pemangku kebijakan agar bisa menjadi bagian dalam kampanye konservasi penyelamatan harimau sumatera.

Pasalnya, kata dia, berkurangnya spesies harimau sumatera bukan hanya karena konflik dengan manusia, tapi juga dipicu perburuan liar. Sebab, masih ada mitos yang menyebutkan bahwa anggota tubuh hewan buas itu dapat mendatangkan keberuntungan atau dijadikan obat kuat.

"Harus kita tekankan harimau milik kita bersama, sehingga perlu melakukan pelatihan advokasi kepada insan pers, pemangku kebijakan, mendorong upaya konservasi harimau di TNBBS. Karena masih banyak paradigma dan mitos-mitos yang harus dihilangkan demi keberlangsungan populasi harimau sumatera,” tegasnya. (*)

Penulis: Romi Rinando
Editor: Daniel Tri Hardanto
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved