Pilgub Lampung 2018

Rakata Institute Blak-blakan, Ini Sumber Dana untuk Merilis Survei 

Setelah mengeluarkan survei Pilgub, Pileg dan Pilpres, banyak yang mempertanyakan siapa penyumbang dana survei Rakata Institute?

Rakata Institute Blak-blakan, Ini Sumber Dana untuk Merilis Survei 
Tribun Lampung/Beni Yulianto
Direktur Eksekutif Rakata Institute Eko Kuswanto menjelaskan hasil survei di Kafe Wiseman, Pahoman, Bandar Lampung, Kamis, 12 April 2018. 

 Laporan Reporter Tribun Lampung Beni Yulianto 

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, BANDAR LAMPUNG - Setelah mengeluarkan survei Pilgub, Pileg dan Pilpres, banyak yang mempertanyakan siapa penyumbang dana survei Rakata Institute? Hasil survei menunjukkan tiga pasangan calon berturut-turut nomor urut 1, 2, dan 3 masih bersaing ketat.

Baca: Utamakan Keselamatan, Suzuki Beri Sosialisasi Safety Riding

Adapun hasilnya  elektabilitas pasangan calon nomor urut 3 Arinal Djunaidi – Chusnunia (Nunik) meraih angka 24,60%, disusul Herman HN - Sutono 23,70%, Ridho Ficardo – Bachtiar Basri 19,50 %, dan Mustafa – Jajuli 8,20%. Masih ada pemilih yang belum menentukan pilihan (swing voter), 24,00%.

Baca: Positif Narkoba, Polisi Tidak Tahan Artis Riza Shahab, Ini Alasannya

Direktur Eksekutif Rakata Institute Eko Kuswanto menjawab dari mana sumber dana biaya survei yang mereka lakukan.

“Sumber biaya survei dari kas Rakata, dari donatur yang tak mengikat, dan usaha kreatif Rakata lainnya,” kata Eko.

Adapun usahan kreatif yang dilakukan rakata biasanya menjual tiket rilis survei dan membuat aplikasi hitung cepat seperti pada Pilkada seerentak gelombang kedua lalu.

Baca: Ogah Penuhi Panggilan Komisi I, Yusuf Kohar: Rolling Sudah Sesuai Aturan

Berbeda dengan survei Rakata, Syaiful Muzani Research Center (SMRC) yang sebelumnya merilis survei Pilgub mengakui sumber dana survei berasal dari Partai Demokrat.

Hasil survei SMRC yang dirilis di Hotel Emersia, Bandar Lampung, Minggu, 25 Maret 2018, lalu membuat ranking elektabilitas paslon yakni Ridho mendapatkan 21,4 persen, Herman HN 17 persen, Mustafa 9,7 persen, dan Arinal Djunaidi 7,8 persen.

Soal pendanaan, Direktur Program SMRC Sirojudin Abbas mengakui bahwa survei tersebut dibiayai oleh Partai Demokrat.

“Kami mengakui survei itu butuh ongkos. Saya fair. Dengan Demokrat, kami sudah kerja sama sejak 2014. Saya ini S-3 di Amerika. Jauh-jauh belajar metode penelitian. Soal hasil survei, itu kredibilitas dan hati nurani, meskipun dibiayai oleh partai,” beber Sirojudin ketika itu. (ben)

Penulis: Beni Yulianto
Editor: soni
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help