Warga Tolak Pembangunan Gedung Bapas di Tanah Lapangan: Ini Bukan Haknya Negara

Warga Pringombo, Kelurahan Pringsewu Timur, Kecamatan Pringsewu, Kabupaten Pringsewu menolak pengalihan fungsi lapangan.

Warga Tolak Pembangunan Gedung Bapas di Tanah Lapangan: Ini Bukan Haknya Negara
Tribunlampung/Didik
Warga memasang sepanduk yang berisi seruan supaya pembangunan gedung Bapas dihentikan, Senin (11/6) sore 

Laporan Reporter Tribun Lampung R Didik Budiawan C

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, PRINGSEWU - Warga Pringombo, Kelurahan Pringsewu Timur, Kecamatan Pringsewu, Kabupaten Pringsewu menolak pengalihan fungsi lapangan.

Oleh karena itu lah, warga protes dengan dibangunnya gedung Balai Pemasyarakatan (Bapas) di atas tanah lapangan.

Baca: Begini Serunya Momen Gracia Indri Saat Melepas Rindu dengan Gisela Cindy di Amerika

Atas penolakkan itu, warga berbondong-bondong mendatangi lapangan yang berada di lingkungan V Kelurahan Pringsewu Timur. Warga menghentikan pembangunan gedung Bapas yang didanai APBN 2018 senilai Rp 3, 2 miliar.

Baca: Intip Potret Cantik Paula Verhoeven, Kekasih Baru Baim Wong yang Seorang Model Profesional

Pembangunan gedung Bapas ini pun dinilai mengejutkan warga. Pasalnya, warga tidak mengetahui akan rencana pengalihan fungsi lapangan. Baru tahu setelah ada penggalian untuk pondasi dengan alat berat eksafator.

Salah satu tokoh masyarakat Sujatmiko mengungkapkan sejarah, bahwa lapangan tersebut dibangun swadaya masyarakat atas pertimbangan kebutuhan tanah lapang. Mengingat di Kelurahan Pringsewu Timur banyak terdapat sekolah. Mulai dari TK,SD, SMP dan SMA/SMK sederajat.

Tidak hanya itu, warga juga masih membutuhkan lapangan untuk sarana kegiatan. Baik itu olahraga maupun kegiatan lainnya. Pembangunan lapangan, diungkapkan Sujatmiko sejak tahun 1995, yang digerakkan oleh panitia pembangunan lapangan.

Ketika itu, Sujatmiko menjabat sebagai Wakil Sekretaris Panitia Pembangunan Lapangan. Sedangkan asal-usul tanah untuk pembangunan lapangan merupakan pemberian dari Yayasan STM YPT sebagai hadiah kepada masyarakat. Sehingga, kata dia, tanah itu bukan sebagai tanah negara.

"Kenapa kok diserahkan ke orang lain (jadi tanah negara), bagaimana ceritanya ?," tanya Sujatmiko dalam musyawarah, Senin (11/6) malam di STM YPT.

Ironisnya, tambah dia, dalam pembangunan gedung kantor Bapas itu tidak ada sosialisasi sebelumnya. Sehingga penggalian tanah lapangan dalam proyek tersebut sangat mengejutkan warga setempat.

"Karena itu bukan haknya (negara), boro-boro pamit pak, noleh saja nggak," ujarnya.

Ketua LPM Kelurahan Pringsewu Timur Anton Subagiyo mendukung supaya lapangan itu tetap dilestarikan. Dukungan itu senada dengan keinginan masyarakat. "Supaya segera merencanakan untuk bagaimana kelanjutan penyempurnaan lapangan yang sudah ada," tuturnya.

Hadir dalam musyawarah seratusan warga yang terdiri dari tokoh masyarakat setempat. Serta perwakilan dari Pemerintah Kabupaten Pringsewu, mulai dari lurah, camat, kepala Kesbangpol dan Kabag Humas Protokol Pemkab Pringsewu.

Diketahui pembangunan gedung Bapas ini dimulai Jumat (7/6) kemarin. Awal pembangunannya disaksikan langsung Kakanwil Kemenkumham Lampung Bambang Haryono yang didampingi oleh Kepala Lembaga Pemasyarakatan Khusus Anak (LPKA) kelas II Lampung Sugandi.

Perwakilan Pemerintah Kabupaten Pringsewu yang ikut menyaksikan, Sekda Budiman, Camat Pringsewu Nang Abidin dan Lurah Pringsewu Timur Sukron. Gedung Bapas rencananya dibangun dua lantai dengan anggaran Rp 3,2 miliar.

Penulis: Robertus Didik Budiawan Cahyono
Editor: Reny Fitriani
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help