Gara-gara Raket Setrum Nyamuk, Rumah dan Mobil Milik Suyono Ludes Terbakar

Akibat raket setrum nyamuk, seorang warga Metro, Suyono harus kehilangan rumah dan mobilnya.

Gara-gara Raket Setrum Nyamuk, Rumah dan Mobil Milik Suyono Ludes Terbakar
TRIBUN LAMPUNG/Indra Simanjuntak
Pemadam kebakaran sedang memadamkan api di rumah Suyono, di Metro, Senin (30/7/2018) malam. 
TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, METRO - Akibat raket setrum nyamuk, seorang warga Metro, Suyono harus kehilangan rumah dan mobilnya.
Hal itu terjadi seusai kebakaran yang terjadi pada Senin (30/7/2018) malam.
Api menghanguskan kediaman Suyono di RT 09 RW 03 Kelurahan Yosomulyo, Kecamatan Metro Pusat.
Api juga membakar satu unit Toyota Avanza BE 2461 FA.
Api diduga berasal dari raket setrum nyamuk, yang menyambar BBM jenis premium.
"Istri saya itu lagi pegang raket setrum nyamuk. Saya lagi isi bensin ke literan. Saya memang jual eceran. Terus nyambar begitu," terang Suyono.
"Raket kan keluar api kalau kena nyamuk. Langsung nggak tahu lagi. Api sudah ke mobil terus nyambar rumah. Nggak sempat nyelamatin apa-apa," tambah Suyono.
Kapolres Metro, Ajun Komisaris Besar Umi Fadilah Astutik membenarkan adanya peristiwa nahas yang terjadi sekitar pukul 20.30 WIB itu.
Menurut Umi, kebakaran akibat sambaran raket setrum nyamuk ke premium.
Sambaran tersebut membuat api membesar dan merambat ke rumah.
"Dari keterangan korban, memang karena raket itu. Tidak ada korban jiwa. Korban luka juga tidak ada, hanya istrinya shock jadi dilarikan ke rumah sakit," ungkap Umi Fadilah Astutik.
Sementara, Kepala Satpol PP Metro, Imron menuturkan, lebih dari 80 persen bangunan rumah korban hancur seusai terbakar.
Seluruh isi rumah pun ludes dilalap si jago merah.
Selain rumah, satu unit Toyota Avanza BE 2461 FA juga ikut terbakar.
Atas peristiwa tersebut, korban diprediksi mengalami kerugian ratusan juta.
Imron mengungkapkan, pihaknya menerjunkan tiga unit mobil plus bantuan kendaraan Dinas Pertamanan sebagai pengangkut air.
Api baru bisa dipadamkan sekitar pukul 22.30 WIB.
Mobil Damkar Uzur
Penanganan kebakaran di Kota Metro belum berjalan maksimal.
Dari beberapa peristiwa rumah atau bangunan yang terbakar, lebih dari 80 persen ludes dilalap jago merah, meski telah ditangani petugas.
Kondisi tersebut sebagaimana terjadi pada kasus kebakaran STKIP Kumala dan STMIK Dharma Wacana pada November 2017, dan Pasar Cendrawasih April 2018.
Di mana, bangunan kampus dan puluhan kios luluh lantak dalam sekejap.
Pun demikian, kejadian terbaru yang menghanguskan kediaman Suyono, warga RT 09 RW 03 Yosomulyo, Senin (30/7/2018) malam.
Kepala Satpol PP Metro, Imron mengaku, armada pemadam kebakaran (damkar) belum mencukupi untuk mengantisipasi kebakaran di Kota Metro, yang memiliki luas wilayah 68,74 kilometerpersegi, dan berpenduduk 161.183 jiwa.
Idealnya, Imron, satu damkar membawahi 15.000 jiwa.
Sehingga, Bumi Sai Wawai wajib memiliki 10 unit mobil damkar.
Kenyataan saat ini, Pemkot Metro hanya memiliki tiga unit mobil damkar.
"Dan, tiga mobil ini juga sudah terbilang uzur ya. Produksi tahun 2.000-an. Belum ada peremajaan. Ada satu yang terkendala dengan penyemprotan. Ini sudah kami usulkan untuk diganti alatnya. Mudah-mudahan tahun ini atau tahun depan bisa diganti," kata Imron.
APAR Minim
Penanganan kebakaran di Metro yang belum maksimal, juga akibat terkendala pengetahuan masyarakat.
Di mana, banyak kantor dan rumah tinggal yang belum memiliki alat pemadam api ringan (apar), yang bisa digunakan sebagak tindakan pertama sebelum petugas pemadam kebakaran datang.
Selain itu, Imron mengungkapkan, hydrant atau sumur bor belum tersedia per kelurahan.
Sehingga, petugas kesulitas untuk menyuplai air saat terjadi kebakaran.
Selama ini, lanjut Imron, petugas damkar mesti bolak balik mengisi air, dan dibantu OPD lain sebagai penyuplai.
"Ini yang makan waktu. Sebenarnya hydrant atau sumur bor bisa diakali kalau kami ada tambahan kendaraan penyuplai air. Jadi kalau ada kebakaran, tiga yang ada di lokasi menyemprot, yang pengangkut ini bolak balik isi airnya," kata Imron.
Ia mengaku, telah mengusulkan penambahan armada damkar dalam APBD.
Namun, ia belum tahu apakah disetujui DPRD.
Hal itu karena harga yang cukup tinggi.
"Ya mahal. Satu damkar itu bisa Rp 1,5 miliar memang. Tapi yang pengangkut kan lebih murah. Mudah-mudahan disetujui," imbuhnya. (indra simanjuntak)
Editor: Ridwan Hardiansyah
Sumber: Tribun Lampung
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved