BI: Sumatera Akan Jadi Penopang Ekonomi Syariah
Penguatan riset, termasuk sosialisasi dan edukasi, juga menjadi hal penting untuk menyiapkan sumber insani yang andal sebagai pelaku ekonomi syariah.
Penulis: Ana Puspita Sari | Editor: Daniel Tri Hardanto
Laporan Reporter Tribun Lampung Ana Puspita Sari
TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, BANDAR LAMPUNG - Bank Indonesia mendorong Sumatera jadi penopang perkembangan ekonomi syariah. Hal ini tidak terlepas dari posisi Sumatera yang secara geografis berdekatan dengan negara tetangga seperti Singapura dan Malaysia.
Deputi Gubernur Bank Indonesia Rosmaya Hadi mengatakan, saat ini Indonesia masih memiliki banyak tantangan di sisi perekonomian syariah.
Ia menggambarkan, share perbankan syariah masih di angka 5,67 persen untuk nasional. Lebih dari itu, Indonesia saat ini baru menjadi "pasar" untuk produk-produk ekonomi syariah, padahal Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadi produsen.
"Masih ada banyak sisi yang perlu diperbaiki dan diringkatkan. Untuk itu, Bank Indonesia saat ini sangat concern mengembangkan ekonomi syariah melalui empat pilar utama," jelas Rosmaya saat membuka Festival Ekonomi Syariah (FESyar) Regional Sumatera di Swiss-belhotel Bandar Lampung, Kamis, 2 Agustus 2018.
Baca: BI Hadirkan Sabyan di Ajang Festival Ekonomi Syariah
Pertama, lanjut Rosmaya, adalah pemberdayaan ekonomi syariah yang menitikberatkan pada perkembangan sektor usaha dengan empat sektor unggulan, yaitu industri makanan halal dan fashion halal, pariwisata halal, pertanian dan energi terbarukan
Langkah kedua, pendalaman pasar keuangan syariah. Bila selama ini pendanaan komersial hanya berpaku pada perbankan, maka ke depan dilakukan eksplorasi pada dana yang bersumber dari ZISWAF untuk dikelola menjadi hal yang sifatnya lebih produktif untuk mendukung perkembangan ekonomi syariah.
Penguatan riset, termasuk sosialisasi dan edukasi, juga menjadi hal penting untuk menyiapkan sumber insani yang andal sebagai pelaku ekonomi syariah.
Hal ini dilakukan bekerja sama dengan perguruan tinggi terkait pembentukan dan implementasi kurikulum. Bisa juga dilakukan dengan edukasi kepada UMKM bagaimana menghasilkan produk halal misalnya.
Baca: Ini Daftar Pecahan Uang Kertas yang Ditarik Bank Indonesia, Segera Tukarkan
"Ketiga, pilar tersebut lantas disinergikan dengan pemanfaatan teknologi, ekonomi secara digital. Sebenarnya pemanfaatan teknologi ini on board saja. Kita tidak perlu menunggu punya ruko yang besar. Begitu punya produk, langsung saja manfaatkan media sosial untuk pemasaran, melalui Instagram misalnya," imbuh dia.
Terkait potensi Sumatera sebagai penopang perkembangan ekonomi syariah, selain lokasi yang strategis, Sumatera juga memiliki 2.150 pesantren yang dapat menjadi poros ekonomi syariah.
Sebagai informasi, saat ini Bank Indonesia di Sumatera telah memberikan pembinaan lepada 37 pesantren melalui berbagai program mulai dari pengolahan air, pertanian, peternakan, integrated farming, jasa dan daur ulang sampah.
Hal ini dilakukan untuk mendorong kegiatan usaha syariah serta meningkatkan peran aktif masyarakat dan pesantren untuk bertumbuhnya sumber ekonomi baru, perluasan lapangan kerja dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Tidak hanya sampai di situ, pembinaan UMKM ini juga dikaitkan dengan ekonomi syariah serta sistem pembayaran berbasis digital sehingga hasilnya lebih optimal.
"Keinginan kita adalah dunia bisa memandang Indonesia sebagai pintu untuk pengembangan ekonomi syariah. Nah khusus di Lampung, sesuai arahan Bapak Wagub tadi, kita bisa kembangkan untuk jadi pariwisata halal dan kuliner halal. Bila kita lihat sekarang, tapis dari Lampung sudah jadi produk unggulan kemudian kreativitas pengolahan pisang (sebagai salah satu makanan terkenal dari Lampung) juga semakin banyak," pungkas dia. (*)