Bibit-bibit KPK Dikembangkan di Lamsel Guna Produksi Kelapa Kopyor

Bidang Perkebunan Dinas Tanaman Pangan, Perkebunan dan Hortikutlura Lampung Selatan berharap ada perda khusus sebagai payung pengelolaan

Bibit-bibit KPK Dikembangkan di Lamsel Guna Produksi Kelapa Kopyor

Laporan Reporter Tribun Lampung Dedi Sutomo 

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, KALIANDA - Bidang Perkebunan Dinas Tanaman Pangan, Perkebunan dan Hortikutlura Lampung Selatan berharap ada perda khusus sebagai payung pengelolaan pengembangan pembibitan pada laboratorium pembibitan kultur jaringan yang ada di dinas tersebut.

Baca: Petani Kelapa di Gadingrejo Lebih Memilih Jual Tuak

Baca: VIDEO: Suasana Kantor Bupati Lampung Selatan Pasca OTT KPK

Perda khusus ini dibutuhkan  mengingat potensi dari laboratorium pengembangan bibit kultur jaringan untuk bisa menghasilkan bibit-bibit yang bisa dilepas (dijual) kepada para petani dan juga ke daerah yang membutuhkan.

“Selain kita, Pringsewu juga memiliki pengembangan pembibitan kultur jaringan ini. Mereka telah memiliki perda khusus, sehingga hasil dari pengembangannya sudah dilepas. Dan ini memberikan PAD (pendapatan) bagi daerah,” kata Kabid Perkebunan, Zulvina Ratnasari, Senin (6/8).

Ia mengatakan saat ini laboratorium kultur jaringan di dinas TPPH sedang mengembangkan pembibitan untuk kelapa puan Kalianda (KPK) yang merupakan varietas lokal yang menghasilkan kelapa kopyor.

Selain itu, laboratorium juga mengembangkan pembibitan kultur jaringan untuk pisang ambon dan pisang kepok serta angrek khas gunung Rajabasa.

“Khusus untuk KPK, kita telah ditetapkan sebagai sentra pembibitan secara nasional. Dan permintaan akan bibit KPK ini cukup banyak dari beberapa daerah,” terang Zulvina.

Untuk itu selain adanya perda khusus yang nantinya menjadi payung hukum. Ia pun berharap ada dukungan pendanaan yang memadai untuk menunjang operasional dari pengembangan pembibitan di laboratorium kultur jaringan yang ada di dinas TPPH.

“Mulai tahun ini kita memang sudah mulai didukung anggaran pada APBD. Tetapi itu masih terbatas. Padahal untuk mengembangkan pembibitan kultur jaringan dalam skala lebih banyak, kita butuh sarana yang lebih banyak pula. Seperti gelas dan juga median untuk menempakan bibit,” tandasnya. (dedi/tribunlampung)

Penulis: Dedi Sutomo
Editor: soni
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help