Menanti Metro Bebas BABS: 20 Tahun Kakek Jatim BAB di Selokan

Pria berkepala pelontos itu menceritakan, 20 tahun lebih selalu buang air besar di selokan.

Menanti Metro Bebas BABS: 20 Tahun Kakek Jatim BAB di Selokan
Tribunlampung/Indra
Sumur kakek jatim yang keruh dan kotor bercampur satu dengan dapur dan barang-barang 

Laporan Reporter Tribun Lampung Indra Simanjuntak

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, METRO - Sebanyak 99,28 persen warga Kota Metro dinyatakan open defecation free (ODF) alias bebas dari prilaku buang air besar sembarangan (BABS).

Persentase jamban permanen diperoleh dari aplikasi STBM-Smart, yang merupakan program pelaporan berbasis android dari para sanitarian pada tiap kelurahan di seluruh Indonesia.

Mengacu pada jumlah penduduk Bumi Sai Wawai, masih ada 0,72 persen warga yang belum terbebas dari BABS. Angka itu tentu sangat kecil jika melihat total penduduk Metro yang mencapai 167.983 jiwa dengan 48.914 keluarga (data Disdukcapil).

Namun, menjadi ironis, ketika dibandingkan dengan Pringsewu yang penduduknya 386.891 jiwa (data 2016, sumber wikipedia). Kabupaten ini memiliki jumlah penduduk dua kali lipat lebih besar berikut luas wilayah yang hampir 10 kalinya Kota Metro, tapi telah mendeklarsikan masyarakatnya bebas dari prilaku BABS sejak tahun lalu.

Rabu (29/8), Tribun Lampung "blusukan" ke kawasan kumuh RW 09, Kelurahan Hadimulyo Barat, Kecamatan Metro Pusat. Ada sekitar 400 KK (Kepala Keluarga) yang tinggal di wilayah dengan angka kepadatan penduduk tertinggi di Bumi Sai Wawai. Yakni 4.280 jiwa per kilometer persegi.

Ketua RW 09 Fatimi mengaku, sekitar lima warganya belum memiliki jamban permanen. Adapun alasannya karena tidak memiliki biaya. Dimana mereka rata-rata berkerja sebagai buruh harian lepas di pasar dan tingkat pendidikan yang rendah.

Tribun menyusuri dua dari lima hunian yang belum memiliki jamban. Salah satu rumah hanya beralas tanah dengan dinding papan plus geribik, ditempati Jatim, kakek 65 tahun yang tinggal bersama anak, mantu, beserta dua cucunya.

Pria berkepala pelontos itu menceritakan, 20 tahun lebih selalu buang air besar di selokan. "Difoto sudah sering. Tapi sampai sekarang belum dapat bantuan. Puluhan tahun," ucapnya dengan bahasa Indonesia terbata-bata. Sementara Lela, anaknya, mengaku tiap kali ingin BAB, selalu menyiapkan kantung plastik.

Masalah Jatim tak berhenti pada jamban. Dari pantauan, air sumur yang berada di dalam rumah secara kasat mata keruh dan kotor. Letak sumber air itu pun begitu dekat dengan jarak siring yang mampet berkisar tiga meter.

Sumur kakek jatim yang keruh dan kotor bercampur satu dengan dapur dan barang-barang
Sumur kakek jatim yang keruh dan kotor bercampur satu dengan dapur dan barang-barang (Tribunlampung/Indra)
Halaman
1234
Tags
Metro
BABS
Penulis: Indra Simanjuntak
Editor: Reny Fitriani
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help