Siswa SMA Jadi Pelanggan Pekerja Seks, PKBI Lampung Ungkap Fenomena Perilaku Seks Remaja

Siswa SMA jadi pelanggan pekerja seks, PKBI Lampung ungkap fenomena perilaku seks remaja. Mereka rela lakukan hal ini.

Siswa SMA Jadi Pelanggan Pekerja Seks, PKBI Lampung Ungkap Fenomena Perilaku Seks Remaja
surya.co.id
Siswa SMA jadi pelanggan pekerja seks 

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, BANDAR LAMPUNG - Pergaulan bebas di kalangan remaja yang menjurus pada perilaku seks, harus disikapi serius dan diwaspadai para orangtua.

Temuan Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Lampung, ternyata bukan hanya soal kehamilan 12 remaja SMP di satu sekolah.

PKBI Lampung juga menemukan fenoman penggunaan jasa Pekerja Seks Komersial (PSK) oleh siswa yang duduk di bangku SMA.

Direktur PKBI Lampung, Dwi Hafsah Handayani menyebutkan, 12 siswi SMP di satu sekolah di Lampung diketahui hamil tersebut, terdiri dari siswa di kelas VII, VIII, dan IX.

PKBI pun terus menghimpun data terkait detail perkembangan kasus tersebut.

Sayangnya, Hafsah tidak bisa memberikan kepastian rentang waktu kejadian tersebut.

Baca: Bandit Makin Brutal, Polisi dan Caleg di Lampung Jadi Korban Kekerasan

Hafsah mengatakan, ia mendapat informasi dari masyarakat bahwa di sekolah tersebut ada kejadian luar biasa.

"Mereka ada yang sudah dinikahkan oleh orangtuanya, lainnya kami belum tahu pasti. Nanti kalau sudah ada info detailnya saya, kasih tahu," kata Hafsah.

Koordinator Pencegahan HIV PKBI Lampung, Rachmat Cahya Aji menambahkan, pengetahuan pelajar tentang kesehatan reproduksi masih minim.

Di sisi lain, pendidikan seks masih dianggap tabu.

"Sehingga banyak remaja tidak mengetahui akibat dari perilaku seks yang berisiko, yang mengakibatkan kehamilan yang tidak diinginkan," ujarnya.

Pantauan PKBI, persoalan kehamilan yang tidak diinginkan di kalangan pelajar, terjadi merata, baik sekolah-sekolah yang ada di Kota Bandar Lampung maupun di kabupaten-kabupaten.

"Hampir di setiap sekolah ada persoalan kehamilan di luar nikah tadi. Bahkan, beberapa kasus terjadi di SMP," ujarnya.

Aji menyampaikan, ada satu sekolah yang dalam dua tahun hanya ada satu kasus kehamilan di luar nikah.

Namun ada juga, satu sekolah dalam satu tahun ada sepuluh kasus kehamilan tidak diinginkan.

"Ada sekolah yang dalam lima tahun terakhir tidak ada kasus kehamilan yang tidak diinginkan. Kasus 10 siswi SMA hamil itu terjadi pada 2016, itu terjadi di satu SMA," jelasnya.

Para pelajar tersebut, terus Aji, umumnya hamil dengan pacarnya.

Pacarnya tersebut, ada yang masih berstatus pelajar, ada juga yang sudah kuliah.

Baca: Pelamar CPNS Tak Perlu Buru-buru, BKN Perpanjang Masa Pendaftaran CPNS 2018

"Para pelajar yang mengalami kehamilan tak diinginkan ini rata-rata dipaksa menikah sama
orangtuanya. Meski kemungkinan ada juga yang terpaksa aborsi," ujarnya.

Beberapa pelajar yang hamil itu, kata Aji, ada yang melakukan konseling ke PKBI dengan didampingi orangtua mereka.

"Bahkan sekarang itu, banyak pelajar SMA yang ke lokalisasi. Bahkan, 20 persen pelanggan pekerja seks itu adalah pelajar SMA.

Jadi dari 10 pelanggan seorang pekerja seks, itu 2 orang di antaranya adalah pelajar. Mereka itu awalnya ingin coba-coba, tahu dari teman, sampai ada yang langganan meski jarang-jarang. Bahkan, ada pelajar yang pacaran sama pekerja seks," kata dia.

Aji meneruskan, para pelajar itu umumnya memakai pekerja seks yang sudah relatif berumur.

Sebab, pekerja seks yang berusia muda, tarifnya mahal dan kurang terjangkau sama pelajar.
Tarifnya sekitar Rp 500 ribu sampai Rp 1 juta ke atas, namun bisa negosiasi.

Menurut Aji, ada beberapa pelanggan ini yang akhirnya terkena penyakit kelamin seperti spilis dan kencing nanah.

Ketua Komnas Perlindungan Anak Lampung, Toni Fiser mengaku prihatin atas kondisi tersebut.
Ia pun kaget atas temuan tersebut.

Diakuinya, kasus kekerasan terhadap anak, termasuk hamil di usia anak terus meningkat dari tahun ke tahun.

"Sedih, berarti ada kurang pengawasan dari orangtuanya karena sumber masalah anak kan dari rumah.
Periode September 2018 sudah ada 5 kasus serupa yang masuk, padahal tahun lalu hanya dua kasus. Ini butuh peran semua pihak terutama orangtua. Tapi kita jadikan ini untuk rehabilitasi bukan sebagai kasus," kata Toni.

Akan lebih miris lagi, terusnya, jika kondisi 12 siswi SMP yang hamil itu korban dari orang dewasa.

Artinya, kondisi kurang nyaman dari orangtua membuat anak mencari kenyamanan di luar, antara lain dengan pasangan atau pacarnya.

Ujungnya, terjadi hal-hal yang melampaui batas seperti hamilnya sang anak yang sejatinya masih usia dini.

Baca: Kasus Pembunuhan Politisi PAN di Lampung - Riki Nelson Ditusuk Saat Tegur Empat Pemuda

"Terlebih keberadaan gadget dan mudahnya mengakses berbagai informasi seperti saat ini. Saya juga baru mendapat konseling dua remaja SMA berpacaran, sama-sama dari keluarga brokenhome. Cari kenyamanan di luar dan kemudian hamil," bebernya.

Secara nasional, terusnya, sepanjang 2017, kasus kekerasan terhadap anak tercatat 317 kasus.

Pada 2018, sampai September 2018, angka tahun lalu tersebut sudah terlampaui.

"Yang tertinggi kasus bullying, selain itu yakondisi anak hamil," ujar Toni.

Dikatakan Toni, orangtua perlu mengajak anak berbicara dan punya waktu bersama.

Bukan sekadar memenuhi kebutuhan finansial anak.

"Punya waktu bareng anak di jam 6 sore sampai 9 malam. Melakukan 3B, belajar, bicara, bermain. Itu perlu untuk melihat perkembangan anak, " kata dia.

Penjualan Kondom
Sementara, Dwi Hafsah Handayani juga membeberkan fenomena penjualan kondom dan alat tes kehamilan atau tespack di lingkungan sekitar kampus, sekolah, maupun kosan.

Ia menyebut kondom dan tespack termasuk produk yang laris manis di lingkungan sekitar kampus, sekolah, maupun indekos.

Dwi mengklaim pernah melakukan survei ke apotek-apotek di sekitaran kampus dan indekos di Lampung.

"Dalam 1 bulan ada 100 pieces terjual (kondom dan tespack). Ini kan sangat memprihatinkan," kata Hafsah.

Penelusuran reporter Tribunlampung.co.iddi sejumlah minimarket di Bandar Lampung, Senin (1/10/2018) sore, terungkap bahwa tidak sedikit konsumen yang terlihat masih usia pelajar, membeli kondom di minimarket.

Pasalnya, kondom di minimarket dijual bebas, dan sangat mudah ditemui karena dipajang di dekat meja kasir.

"Kita gak bisa pastikan pelajar atau bukan, tapi kalau dari fisik dan mukanya kelihatan masih remaja, ya usia-usia anak SMP atau SMA-lah," ujar seorang karyawan minimarket terkenal di bilangan Jalan Basuki Rachmat, Telukbetung Utara.

Ia menyebutkan produk kondom banyak dibeli konsumen pada hari Sabtu, biasanya ada dua sampai tiga orang pembeli.

"Kalau malam Minggu lumayan yang beli kondom, tapi lebih sering orang dewasa," ujarnya.
Pembelian kondom di kalangan anak remaja atau mahasiswa juga terjadi di minimarket di Jalan Teuku Umar.

"Kalau remaja yang beli, biasanya pas sepi. Kadang tanyanya malu-malu, sambil mau buru-buru pergi," kata karyawan minimarket tersebut.

Karyawan yang enggan menyebutkan namanya itu mengatakan, biasanya pelajar atau mahasiswa yang membeli kondom tidak banyak bertanya.

"Ini (kondom) kan banyak merek, tapi biasanya mereka gak banyak tanya. Cuma tanya ada kondom gak, terus langsung bayar, dan buru-buru pergi," ujarnya.

Toko waralaba di kawasan Way Halim juga kerap disambangi remaja.

Namun, jumlahnya tidak banyak dan tidak sering.

Baca: 5 Fakta Terbaru Video Asusila Mahasiswa UIN SGD Bandung, Suara Perekam Bocor

"Pernah sekali, kalau lihat mukanya kayakmasih pelajar. Tapi kan saya gak mungkin larang orang beli, atau tanya itu (kondom) untuk siapa," ujar karyawan minimarket di Jalan Ki Maja tersebut.

Sementara, Lembaga Advokasi Anak (Lada) Lampung menyatakan hanya menangani satu perempuan usia muda hamil di luar nikah, yang merupakan korban human trafficking (perdagangan manusia).

"Kalau yang kami tangani hanya ada satu tapi itu korban trafficking. Dia sempat hamil dan umurnya masih sekitar 16 tahun," terang Direktur Lada Lampung, Turaihan Aldi, Senin.

Menurut Aldi, jumlah 12 siswi SMP di satu sekolah di Lampung diketahui hamil, merupakan data yang ditemukan PKBI.

Tetapi tak tertutup kemungkinan, jumlah yang tidak terdata lebih besar lagi.

Karena saat ini, masih banyak orangtua enggan melaporkan kasus kehamilan putrinya yang masih usia sekolah.

"Kehamilan untuk anak SMP dan SMA biasanya selesai di perdamaian antarkeluarga," katanya. (*)

Editor: Safruddin
Sumber: Tribun Lampung
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved