Kembali Kritik Pemerintah, Prabowo Sebut 'Ekonomi Kebodohan' hingga Stunting

Prabowo menyebut 1 dari 3 anak Indonesia berusia di bawah lima tahun mengalami stunting atau pertumbuhan yang tidak sempurna.

Kembali Kritik Pemerintah, Prabowo Sebut 'Ekonomi Kebodohan' hingga Stunting
KOMPAS.com/KRISTIAN ERDIANTO
Capres yang juga Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo 

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, JAKARTA - Prabowo Subianto kembali melontarkan kritik terhadap pemerintah.

Kali ini, calon presiden nomor urut 2 itu menyebut Indonesia sedang menjalankan ”ekonomi kebodohan”.

Ia menilai, sistem ekonomi yang berjalan sudah lebih parah dari paham neoliberalisme yang dianut oleh Amerika Serikat.

Sebab, kata dia, angka kesenjangan sosial masyarakat Indonesia semakin tinggi.

"Ini menurut saya bukan ekonomi neoliberal lagi. Ini lebih parah dari neolib. Harus ada istilah, ini menurut saya ekonomi kebodohan. The economics of stupidity. Ini yang terjadi," ujar Prabowo saat berpidato dalam Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) di Pondok Pesantren Minhajurrosyidin Pondok Gede, Jakarta Timur, Kamis (11/10/2018).

Prabowo memaparkan beberapa indikator untuk menguatkan argumentasinya tersebut.

Menurut dia, sejak 1997 hingga 2014, kekayaan Indonesia yang hilang atau dinikmati oleh pihak asing mencapai 300 miliar dolar Amerika Serikat.

Baca: Prabowo Sebut Acara IMF-Bank Dunia di Bali Terlalu Mewah, Benarkah?

Dengan demikian, Indonesia hanya memiliki sedikit cadangan kekayaan nasional.

"Dengan tidak adanya cadangan kekayaan di dalam negeri tidak mungkin indonesia bisa menjadi negara yang sejahtera," kata dia.

Ketua Umum Partai Gerindra itu juga menyoroti fenomena kekurangan gizi.

Halaman
12
Editor: Daniel Tri Hardanto
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved